Navigation Menu

Komunikasi Lintas Budaya : Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan

PENDAHULUAN

Desa Balun atau biasa disebut Desa Pancasila merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Desa ini sudah terbentuk sejak lama bahkan sebelum indonesia merdeka. Pada awalnya masyarakat di Desa Balun merupakan mayoritas beragama islam, namun hal ini menjadi berantakan ketika terjadi masa pergolakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30SPKI). Pada masa itu masyarakat Desa Balun menjatuhkan korban paling banyak diantara seluruh wilayah jawa timur. Hari itu PKI sampai meninggalkan kurang lebih 17 orang di Desa Balun sehingga menimbulkan trauma berkepanjangan di benak masyarakat beragama disana. seiring berjalannya waktu masyarakat mulai mengenal kepercayaan beragama yang baru, saat itu agama yang disahkan Presiden Republik Indonesia ialah Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Masyarakat mulai menganut kepercayaan katolik dan hindu, lambat laun umatnya pun juga bertambah hingga sekarang. Keberagaman agama di satu desa menjadi sesuatu yang unik, tidak seperti perbedaan kepercayaan pada umumnya yang cenderung acuh dan tidak toleran kepada umat lain. Di Desa Balun Toleransi beragama sangatlah besar, bahkan bisa dibilang lebih besar dari ikatan sesama umat. Hal seperti ini menjadi wujud nyata bagaimana menerapkan asas-asas dalam pancasila, sehingga akhirnya Desa Balun hingga saat ini disebut sebagai Desa Pancasila.

PEMBAHASAN

A.Bahasa

    Tidak ada manusia tanpa Bahasa. Pengertian Bahasa itu sendiri menurut Markam (1991) adalah sarana komunikasi antar individu yang di ucapkan kepada individu lainnya.. Bahasa juga merupakan fitur lain yang umum pada setiap budaya, begitu pentingnya bahasa bagi setiap budaya, membuat HAVILAND dan rekannya, mengatkan “ tanpa kapasitas terhadap bahasa yang kompleks budaya manusia yang kita ketahui tidak akan ada”. Bahasa tidak hanya mengizinkan anggotanya untuk berbagi pikiran, perasaan dan informasi, tetapi juga merupakan metode utama dalam menyebarkan budaya. Baik bahasa inggris, cina maupun prancis, banyak kata, arti, tata bahasa, dan semuanya memberikan tanda identitas dalam memberikan budaya khusus.
Tepatnya di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan menggunakan  Bahasa jawa untuk berkomunikasi dalam sehari-hari, karena mereka semua bersal dari jawa tulen atau jawa asli bukan dari luar jawa. Tetapi perbedaan bahasa di sini pada saat mereka berdoa atau melakukan pemujaan terhadap apa yang mereka sembah. Seperti yang di katakana bapak sutrisno sebagai ketua gereja mengatakan bahwa masyarakat yang beragama KRISTEN, mereka melakukan komunikasi dengan tuhan nya menggunakan bahasa Indonesia ketika pagi hari dan bahasa jawa ketika sore hari. Sedangkan yang dikatakan oleh bapak Adiwiyona sebagai guru agama hindhu mengatakan bahwa masyarakat yang beragama HINDHU menggunakan bahasa sansekerta. Dan yang dikatakan oleh bapak rumitno selaku mudin menagatakan bahwa masyarakat desa balun yang beragama ISLAM menggunakan bahasa arab yang tertera dalam kitab al-qur’an. Begitu banyak bahasa atau kata yang berbeda maknanya. Seperti  Kata OGOOGO adalah sebutan masyarakat ketika sedang merayakan perayaan sebelum hari raya nyepi. OGOOGO berasal dari bahasa sansekerta. Sedangkan  Masyarakat yang beragama hindhu menyebut WIWAHA sebagai kata lain dari akad nikah dalam sebuah perkawinan. Adapun masyarakat yang beragama hindhu menyebut NAYAKA sebagai kata lain dari orang yang melaksanakan hajatan. Ada kata NGATURI adalah nama lain dari hajatan, biasanya masyarakat desa balun menyebutnya seperti itu yang di hadiri oleh berbagai masyarakat yang brbeda agama.Bahasa-bahasa itu semua telah di sebarkan terhadap masyarakat yang menganut agama berbeda-beda. pada awalnya masyarakat-masyarakat ada yang tidak mengenal dengan bahasa-bahasa seperti itu. Tetapi lama kelamaan mereka akan mengerti karena sudah terbiasa mendengar dengan bahasa seperti itu. Mereka akan mengerti ketika menjelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa jawa, karena bahasa kedua tersebut adalah bahasa yang sangat di kenali oleh banyak masyarakat, sedangkan bahasa-bahasa sansekerta tidak semua orang bisa memahami terhadap bahasa tersebut. Hanya sebagian orang seperti yang beragama Hindhu, karena mereka ketika berdoa atau menyembah tuhanya menggunakan bahasa sansekerta.

Masyarakat desa balun ini sangatlah memiliki toleransi yang kuat. Untuk itu ketika berbicara dengan orang yang berbeda agama mereka saling menghormati. Ketika satu dari yang lain ada yang tidak mengerti tentang bahasa yang mereka gunakan mereka akan dengan senang hati menjelaskan nya dengan menggunakan bahasa jawa atau bahsa indonesia. Itu semua yang membuat tanpa adanya konflik yang terjadi dalam masyarakat desa balun tersebut. Masyarakat di desa balun terbagi menjadi 2 bahasa, ada yang  berbahasa jawa HALUS dan ada juga yang KASAR. Sering biasanya bahasa yang kasar di gunakan oleh kalangan anak muda sesama dengan nya. Sedangkan bahasa yang halus di gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Cara berbicara mereka sangatlah berciri khas Lamongan. Perbedaan agama tidaklah menjadikan perbedaan bahasa juga, karena mereka hanya berbeda bahasa ketika berdo’a atau menyembah saja. Tetapi pada saat berkomunikasi dengan sesame mereka tetap menggunakan bahasa yang sama, contoh seperti ketika meminta bantuan akan ada acara, orang yang beragama islam akan mengadakan sebuah acara dan ingin mengundang orang yang beragama Kristen, maka dia akan meminta bantuan kepada orang Kristen tersebut dengan bahasa yang sesame dan dengan cara yang baik. Orang Kristen tersebut tidak tau acara yang akan di buat oleh orang islam, pada awalnya orang Kristen tersebut hanya mengikuti acara tersebut, lama kelamaan dia akan tau acar-acara orang islam tersebut. Dan begitu sebalik nya. Mereka akan saling mengerti bahasa satu sama lain jika mereka saling memahami. Bahasa yang mereka gunakan akan menjadi bahasa bersama. Tidak akan ada perbedaan agama antara satu sama lain meskipun mereka berbeda agama. 

Daftar pustaka :
1.    Buku Komunikasi lintas budaya communication between cuttines oleh larry A. samovar/ Richard E. Porter/ Edwin R. Mc Daniel. Hal-31
2.    Markam, soemono, 1991. Hubunga fungsi otak dan kemampuan berbahasa pada orang dewasa.

B. Sistem Pengetahuan
 
    Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling keterkaitan secara teratur, sehingga membentuk susunan yang teratur dari semua pandangan, teori dan sebagainya. Sedangkan pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian yang berkaitan dengan mata pelajaran. Jadi sistem pengetahuan adalah seperangkat unsur yang diketahui atau suatu kepandaian yang dimiliki dari pengalaman maupun melalui belajar.
    Penelitian tentang sistem pengetahuan yang terdapat didaerah Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Pada dasarnya memang sama dengan daerah – daerah lain pada umumnya. Ada tingkatan Paud, SD/MI, SMP/MTS, SMA ataupun Perguruan Tinggi. Akan tetapi di desa Balun sendiri terkenal akan tiga agamanya yang berbeda yaitu agama islam, agama hindu dan agama kristen juga rasa toleransi yang tinggi dari penganut agama masing – masing yang membuat perbedaan sedikit dari daerah – daerah lainnya.
    Yang sedikit unik di desa Balun adalah sekolah untuk tingkatan SD bisa berbaur menjadi satu, tidak ada perbedaan dalam kewajiban menuntut ilmu pengetahuan, semua sama tanpa dibeda – bedakan agama apa yang di anutnya. Akan tetapi ada hari khusus yang diberlakukan di SD 1 Balen yaitu pada setiap hari sabtu yang diberlakukan untuk pelajaran agama. Ada agama islam, agama Kristen dan agama hindu yang dipisah sesuai agama masing – masing murid dari kelas satu hingga kelas enam, yang masing – masing agama diajarkan oleh pengampu yang berbeda yang sesuai dengan agamanya. Selain pelajaran agama murid – murid tersebut belajar dengan sistem pembelajaran sama dengan sekolah – sekolah lain.
    Tetapi untuk penganut agama hindu ada semacam kursus yang diajar oleh bapak Adi Wiyono selaku sekretaris organisasi agama hindu Kabupaten Lamongan yang juga guru agama hindu. Yang beliau mengadakan semacam kursus dihari minggu atau yang biasa disebut sekolah mingguan, yang diadakan dipura desa Balun. Kursus ini tidak terbatas usia, yang biasanya diikuti semua siswa dari SD, SMP, dan SMA, yang belajar tentang bahasa hindu sendiri.
    Untuk agama islam di Desa Balun sendiri juga diadakan pelajaran agama tambahan yang dilakukan dimasjid desa Balun. Yang dilakukan setiap sore hari setelah waktu ashar yang biasa disebut TPQ. Yang ikut dalam belajar agama biasanya terdiri dari remaja – remaja masjid baik laki – laki maupun perempuan.
    Sekilas memang tidak ada perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan daerah – daerah lain pada umumnya. Karena memang setiap warga Negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu. Karena memang hal tersebut juga di perkuat dengan rasa toleransi beragama yang sangat tinggi dimasyarakat Desa Balun sendiri. Sehingga tidak ada rasa saling membeda – bedakan dari agama mana mereka berasal. Karena memang seharusnya tidak ada batasan antara agama mana untuk menuntut ilmu setinggi – tingginya. Dengan adanya sikap toleransi tersebut, diharapkan nantinya akan bisa menimbulkan efek timbal balik yang baik antara satu dengan yang lainya.

NO    Tingkat Pendidikan                       Jumlah
1.    Belum Sekolah                                 158 Jiwa
2.    Tidak Tamat Sekolah                        216 Jiwa
3.    Tamat SD / Sederajat                     2.926 Jiwa
4.    Tamat SLTP / Sederajat                    723 Jiwa
5.    Tamat SLTA / Sederajat                    518 Jiwa
6.    Sarjana Muda                                      43 Jiwa
7.    Sarjana                                               135 Jiwa
8.    Pasca Sarjana                                         2 Jiwa

    Berikut adalah deskriptif tentang sistem pengetahuan di desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, yang kami teliti. Pendidikan memang merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan umum dari pendidikan adalah membuat anak untuk berfikir lebih dewasa, dan mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan. Karena pendidikan adalah salah satu aspek utama yang sangatpenting untuk pembangunan bangsa, dengan adanya sumber daya manusia yang tinggi mka akan menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa.
    Pendidikan harus dimualai dari titik nol yang dijarkan secara bertahap sesuai porsi tingkat umur masing – masing. Agar semuanya berjalan dengan runtut dan teratur, yang nantinya akan menjadi suatu sisitem yang kokoh.
    Adapun ciri – ciri suatu sistem yang baik menurut buku akta mengajar V Depdikbud,1984) yang meliputi :
a.    Adanya tujuan
b.    Adanya fungsi untuk mencapai tujuan
c.    Ada bagian komponen yang melaksanakan fungsi – fungsi tersebut
d.    Adanya interaksi antara komponen satu saling hubungan
e.    Adanya penggabungan yang menimbulkan jalinan keterpaduan
f.    Adanya proses transformasi
g.    Adanya proses umpan balik untuk perbaikan
h.    Adanya daerah batasan dan lingkungan
Seperti di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Untuk mencapai sistem pendidikan yang baik, perlu adanya urutan – urutan yang jelas antara satu dengan lainya. Agar nantinya terjadi sebuah timbal balik yang sesuai antara tenaga pengajar dan murid sebagai penerima ilmu pengetahuan. Sehingga nantinya akan tercipta sebuah sistem yang solid untuk melakukan pembangunan secara berkelanjutan.

C.  Sistem Masyarakat dan Organisasional
 
Masyarakat terdiri atas sekelompok yang menempati daerah tertentu. Menunjukkan integrasi berdasarkan pengalaman bersama berdasarkan kebudayaan, memiliki jumlah lembaga  yang melayani kepentingan bersama, mempunyai kesadaran akan kesatuan tempat tinggal dan bila perlu dapat bertindak bersama.
Abdulsyani (1994) mengatakan sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berkaitan, masing masing bagian bekerja sendiri dan bersama-sama saling mendukung, semuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama , dan terjadi pada lingkungan yang kompleks. Untuk menelah hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat maka istilah yang digunakan adalah sistem sosial. Hal ini sejalan dengan dilakukan Jhonson (1986) sistem sosial hanya salah satu dari sistem-sistemyang termasuk dalam kenyataan sosial. Sistem-sistem sosial tersebutmerupakan bentukan dari tindakan-tindakansosial individu.
Fungsi dari sisitem sosial masyarakat merupakan sistem sosial pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mencapai stabilitas. Karena sistem sosial menurut Nasikun (1993) memang sering kali mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar, baik dengan cara tetap memelihara status dengan cara melakukan bersifat reaksioner.
Sistem nilai dalam masyarakat. Tiap masyarakat memiliki sistem nilainya sendiri yang coraknya berbeda dengan masyarakat lain. Dalam sistem nilai senantiasa terjalin nilai-nilai kebudayaan nasional dengan nilai-nilai yang unik. Dalam nilai-nilai itu terdapat jenjang prioritas, ada nilai yang dianggap lebih tinggi dari pada yang lain yang dapat berbeda menurut pendirian individual.
Dalam masyarakat kota yang mempunyai universitas dan penduduk yang intelektual sikap orang lebih liberal, lebih terbuka bagi modernitas dan pendirian atau bentuk kelakuan yang baru, mulai pakaian dan pergaulan. Sebaliknya dalam masyarakat pedesaan yang mempunyai tradisi yang kuat dan sangat taat pada agama, sikap dan prilaku orang lebih homogen. Penyimpangan yang tidak lazim akan segera mendapat kecaman dan kelakuan setiap orang diawasi dan diatur oleh orang sekitarnya. Dalam kedua masyarakat tersebut anak dididik dengan cara yang berbeda-beda pula, walaupun kedua masyarakat itu berbeda-beda, namun ada pula persamaan yakni mereka semua sama mempunyai kebudayaan nasional yang sama.
Di desa pancasila ini memiliki keragaman masyarakat dan organisasional. Dimana Desa  Balun atau Desa Pancasila ini memiliki keragaman dalam segi religi, dikarenakan didalamnya mempunyai keragaman Agama, yakni Agama Islam, Agama Hindu dan Agama Kristen, dan disetiap agama memiliki sistem organisasional yang berbeda dan fungsi organisasional yang berbeda. Dengan masyarakat yang memiliki prinsip “keluarga, teman dan sahabat”mereka percaya bahwa hidup itu saling ketergantungan dan saling membantu satu sama lain. Sehingga ketika mereka berkumpul masyarakat balun tidak terlihat mana yang beragama Isla, mana yang beragama Kristen dan juga yang beragama Hindu. Sebagai contoh ketika mereka melaksanakan kegiatan syukuran “bancaan” maka mereka duduk bersama tanpa memandang agama apa yang dianutnya dan mereka memakai pakaian satu yakni songkok dan sarung, sehingga hal-hal yang membedakan agama tidak terlihat. Salah satu toleransi yang digunakan salah satunya ketika mereka mengadakan hari-hari besar yang dilaksanakan setiap agama, semisal Agama Islam ketika Halal Bihalal, Agama Kristen ketika Natal dan Agama Hindu ketika perayaan  nyepi “ogoh-ogoh”. Mereka saling membantu semisal ketika Islam mengadakan Halal Bihalal maka pemuda gereja dan pemuda hindu ikut berpartisipasi untuk bidang keamanan dan juga ketertiban. Ketika sedang ada warga yang meninggal maka semua warga perempuan guyub rukun untuk memasak bersama dan saling membantu.
Sistem  Masyarakat Atau Organisasional di Desa Balun
a.    Agama Islam
Ketika proses  interview dengan Bapak Sumitro beliau selaku Modin dan juga Kesmas Desa Balun. Dimana beliau mengatakan bahwa organisasi yang ada di agama Islam adalah : Remaja masjid Pa/Pi dengan agenda kegiatan Shalawat setiap malam Jumat, Mengaji di TPQ untuk pemuda yang belum bisa dan belum lancar membaca Al-quran setiap ba’da magrib di Kantor Remaja Masjid sebelah Masjid baik mengaji Kitab dan Al-quran. Dan anggota Jama’ah Tahlil untuk Bapak-Bapak yang dilaksanakan rutin Jumat malam sabtu dan malam Minggu dilaksanakan Pengajian rutin, dan untuk Ibu-Ibu Muslimat Fatayat kegiatannya setiap malam Rabu untuk membaca yasin,Tahlil dan Istigosah. Meski dengan agama yang beragam namun acara seperti Tabligh Akbar hari besar tetap dilaksanakan dan juga acara rutinan yakni Halal Bihalal yang disitu melibatkan seluruh warga baik beragama Islam,Hindu dan Kristen, namun yang beragama selain Islam berpartisipasi dalam bidang keamanan.
b.    Agama Kristen
Proses Interview kepada narasumber Bapak Sutrisno selaku Ketua Gereja di desa Balun dan juga Guru di SMA N 1 Lamongan. Dimana organisasi yang ada di Agama Kristen yaitu Pemuda Gereja dimana kegiatannya dibagi menjadi 2 yakni acara khusus dan umum, acara yang bersifat khusus adalah Ibadah Pemuda dilayani Pemuda gereja itu sendiri, Persekutuan Doa untuk Pemuda juga dilayani atau dibimbing Pemuda Gereja, Pemahaman Alkitab dilayani Orang-orang  kusus seperti Pendeta, dan Latihan Pujian untuk setiap minggu ditampilkan pujian di Ibadah Minggu. Dan yang bersifat umum setiap sore ketika nganggur digunakan untuk bermain ke gereja sekedar bermain Badminton, mengadakan peringatan Hari Sumpah Pemuda dimana acara ini melibatkan  Remaja Islam dan Remaja Hindu untuk berkolaborasi dengan Pemuda Gereja dengan menampilkan musik dengan aliran masing-masing.
c.    Agama Hindu
Dengan Bapak Adi Wiyono selaku Sekertaris Parisada Kabupaten dan Guru Agama Hindu. Organisasi yang ada di agama Hindu yakni Parisada dengan kegiatan Kliwonan, Purnama Sidi, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati dan Sirawati dan Nyepi. Dimana ketika Kegiatan Ogoh-Ogoh itu kegiatan yang dinanti-nanti oleh masyarakat dan disitu peran masyarakat terutama Remas dan Pemuda Gereja sebagai keamanan dan yang mengiring Ogoh-Ogoh. Dimana Pemuda Hindu ini bernama Taruna Swetadarma dimana kegiatannya secara umum kereeligian dan Taruna Swetadarma ini berkumpul ketika pada saat sebelum hari H seperti membentuk atau membuat Benjor dan macam macam untuk kegiatan Galungan, dan Latihan gamelan bali di hari hari seperti Ogoh-Ogoh dan Ogalan.

Daftar pustaka: 
1.    Vagee,Karel J.1992. pengantar Sosiologi. Hal-142
2.    Koentjaraningrat.1990. pengantar ilmu antropologi sosial hal-65
3.    Nasution,S. 2011, sosiologi pendidikan, hal 148-153

D. Sistem Teknologi
 
Perkembangan teknologi informasi pada saat ini mempermudah penyebaran informasi ke berbagai wilayah, bahkan informasi menyebar dengan cepat sampai ke semua belahan dunia. Informasi terkini yang terjadi di suatu wilayah dapat diperoleh dengan mudahnya, sehingga keberadaan teknologi informasi saat ini telah membantu proses kehidupan manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Kata teknologi secara harfiah berasal dari bahasa latin’’texere’’yang berarti menyusun atau membangun. Sehingga istilah teknologi seharusnya tidak terbatas pada penggunaan mesin, meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Roger (1983) teknologi adalah suatu rancangan (desain) untuk alat bantu tindakan yang mengurangi ketidakpastian dalam hubungan sebab akibat dalam mencapai suatu hal yang diinginkan. Jacques Ellul (1967) mengartikan teknologi sebagai keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia
Desa Balun adalah sebuah desa yang masyarakatnya memiliki keberagaman dalam agama. Di desa ini terdapat 3 agama berbeda yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Di desa Balun ini masyarakatnya sangat memegang teguh toleransi, hal itu jelas bisa dilihat dengan tempat ibadah yang lokasinya sangat berdedekatan, bahkan berdampingan. Masjid dan pura lokasinya berdampingan, sedangkan gereja berlokasi hanya sekitar 10 meter dari masjid dan pura. Selain itu masyarakat Balun juga saling bantu membantu dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya apabila saat acara Nyepi, maka tidak hanya warga Hindu, namun Islam dan Kristen pun juga disibukkan untuk mempersiapkan acara tersebut, begitu juga sebaliknya, jika warga yang beragama Kristen dan Islam tengah ada acara-acara penting maka warga Hindu tidak segan-segan untuk membantu.
Sistem Teknologi Masyarakat Balun
Sistem pemanfaatan teknologi masyarakat Balun tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat di Indonesia, teknologi digunakan sebagai sarana penyampaian informasi, baik itu informasi yang bersifat menyeluruh maupun yang bersifat lebih internal / ruang lingkup agama. Namun begitu menurut Bapak Adi Wiyono selaku sekretaris parisada dan guru agama Hindu di salah satu sekolah disana mengatakan memang tidak semua warga desa Balun bisa memanfaatkan teknologi, hanya sebagian saja terutama kalangan remaja. Misalkan dalam acara beberapa waktu yang lalu saat umat Hindu mengadakan acara Ogoh-Ogoh, kalangan remaja di desa balun beramai ramai menyampaikan informasi tentang waktu dan tempat pengarakan Ogoh-ogoh tersebut lewat broadcast bbm ataupun grup WhatsApp, sedangkan masyarakat yang tidak mengerti akan teknologi terutama yang sudah lanjut usia hanya menyampaikan dari mulut ke mulut saja. Penyampaian informasi juga bisa disampaikan melalui banner-banner ataupun baliho yang dipasang dipinggir jalan. Sedangkan Bapak Sutrisno selaku ketua Gereja di desa Balun dan juga guru di SMAN 1 Lamongan dan Bapak Sumitro selaku modin dan juga Kesmas desa Balun keduanya membenarkan bahwa setiap remaja di desa Balun memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi dan dalam pemanfaatan teknologi, mereka mengatakan bahwa remaja disana menggunakan grup Whatsapp sebagai sarana berkomunikasi, jadi setiap remaja yang beragama Islam memiliki grup sendiri, begitu juga yang beragama Kristen, jadi itu memudahkan mereka untuk saling bertukar informasi.

Sumber: 
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Tips Efektif Pemanfaatan Teknologi Informasi dan                                                             Komunikasi dalam Dunia Pendidikan. Jogjakarta : Diva Press
Jurnal Pemanfaatan Teknologi Informasi, Unair, Elisa Dwi Ananda


E. Mata Pencaharian
 
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mata pencaharian diartikan sebagai suatu pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari). Dari definisi tersebut dapat dijabarkan sebagai seseorang yang bekerja dan merupakan pokok dari suatu pekerjaan itu sendiri. Jika kita kaitkan pekerjaan seseorang dalam sebuah wilayah maka akan kita dapatkan pemetaan tentang mayoritas atau rata-rata mata pencaharian masyarakat di wilayah tersebut.
    Penelitian kali ini kita lakukan di daerah Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, dengan sample warga desa terebut. Kategori mata pencaharian pun cukup beragam dari tiap-tiap masing anggota keluarga. Hal ini dapat kita lihat dari kualitas pendidikan dari masing-masing anggota keluarga tersebut. Dari sini kita dapat melihat kategori mata pencaharian sebagai berikut :
No    Pekerjaan                          Jumlah
1    Petani                                  1.451 jiwa
2    Dagang                                     91 jiwa
3    Buruh Tani/Bangunan            428 jiwa
4    Pegawai Negeri                        42 jiwa
5    TNI/POLROI                           27 jiwa
6    Pensiunan                                 10 jiwa
7    Lain-lain                              2.672 jiwa

    Dengan sample di atas kita dapat mengetahui mayoritas penduduk dengan mata pencaharian yang ada pada daerah tersebut. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas mata pencaharian warga Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan bekerja sebagai petani, dan berbagai kategori mata pencaharian lainnya yang tertera pada table.
    Pemetaan mata pencaharian tersebut didasarkan pada tingkat pendidikan dalam anggota keluarga, sehingga daerah ini dapat dikategorikan sebagai masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah atau dalam jenjang SMA. Dari sana muncul berbagai kategori mata pencaharian dengan spesifik penggaruh pendidikan dalam sebuah mata pencaharian. Dari sini kita mudah mendapatkan pemetaan mata pencaharian yang lebih dominan yaitu sebagai petani.
    Menurut Ireland (2004), mata pencaharian alternatif dapat diartikan sebagai mata pencaharian diluar kegiatan ekonomi tradisional atau kegiatan ekonomi yang telah umum dilakukan sebelumnya oleh penduduk di suatu wilayah. Dari penjelasan oleh salah satu perangkat desa di daerah tersebut banyak masyarakat yang bekerja selain pekerjaan pokoknya, salah satunya adalah menjadi kuli panggul di pasar perkotaan. Pekerjaan ini biasanya banyak dikerjakan oleh pemuda setempat untuk menambah penghasilan meskipun dari keberagaman agama atau budaya, pada dasarnya mereka bekerja untuk keluarga.
    Keberagaman agama disini bukan menentukan orang itu harus bermata pencaharian apa tapi baigamana keberagaman itu menjadi satu bagian yang dapat menyeluruh dari setiap anggota masing-masing agama tanpa adanya penggolongan dalam keberagaman tersebut. Semua keberagaman agama berjalan sama dengan kondisi lingkungan, dan disitulah keberagaman menjadi sebuah harapan bersama.
    Mata pencaharian menjadi pokok utama dalam kehidupan, kesejahteraan masyarakat merupakan prioritas sendiri dari keberagaman di Desa Balun ini sendiri. Mereka memandang ketika kita merasakan kesejahteraan dari apa yang kita hasilkan maka hasil itu kita juga berikan terhadap orang yang membutuhkan, sehingga kesejahteraan diproritaskan bersama meskipun dari latar mata pencaharian yang berbeda-beda.
    Dalam penyelengaraan kesejahteraan di Pemerintah Desa sendiri terbilang sudah baik, terutama dengan adanya bantuan dari pemerintah yang memberikan bantuan beras kaskin bagi masyarakat yang kurang mampu, ini dilaksanakan sesuai dengan sasaran pada masyarakat yang kurang mampu. Pemberian bantuan perdagangan bagi usaha ekonomi lemah yang berupa peralatan dan modal serta pemberian kartu kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Semua ini bisa tersalurkan sesuai dengan sasaran yakni pada masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat miskin. “dikutip dari data Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Sumber : Bappenas. 1994. Kaji Tindak Program IDT 1994-1997. Jakarta: Bappenas.

F. Sistem Religi
         
Kebudayaan tampil sebagai perantara yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi selanjutnya yang diwarisi kebudayaan tersebut. Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada dataran empiriknya atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan berbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.
        Dalam pandangan sosiologis, perhatian utama terhadap agama adalah terletak pada fungsinya dalam masyarakat. Konsep fungsi seperti kita ketahui, menunjuk pada sumbangan atau kontribusi yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk mempertahankan keutuhan masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berlangsung secara terus-menerus. Menurut Emile Durkheim sebagai sosiologi besar telah memberikan gambaran tentang fungsi agama dalam masyarakat. Dia berkesimpulan bahwa sarana-sarana keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.
         Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Tetapi agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing - masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidak- utuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambing atau simbol) kepatuhan (komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk. Setiap umat atau kelompok yang benar- benar hidup sesuai dengan amanah agamanya masing - masing. Oleh karena itu, maka dengan sendirinya akan terwujud kerukunan, persaudaraan, kedamaian dan kenyamanan dalam kehidupan bermayarakat. Karena agama telah mengajarkan kebenaran dan kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan, pertikaian, diskriminasi dan lain sebagainya, Hidup beragama tampak pada sikap dan cara perwujudan sikap hidup beragama.
Ada teori dari sistem religi yaitu :

1.    Teori Jiwa
     “Teori Jiwa”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana antropologi Inggris, E.B.Tylor, dan diajukan dalam kitabnya yang terkenal berjudul Primitive Cultures (1873). Menurut Tylor, asal mula agama adalah kesadaran manusia akan faham jiwa. Kesadaran akan faham itu disebabkan karena dua hal, ialah : 
a. Perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Suatu makhluk pada suatu saat bergerak-gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian makhluk tadi tak bergerak lagi, artinya mati.
b. Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat tempat lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan  suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke lain tempat. Bagian lain itulah yang disebut jiwa.


2.    Teori Batas Akal Teori Batas
      Akal”, berasal dari sarjana besar J.G. Frazer, dan diuraikan olehnya dalam jilid I dari bukunya yang terdiri dari 12 jilid berjudul The Golden Bough (1890). Menurut Frazer, manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya; tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu; tetapi dalam banyak kebudayaan, batas akal manusia masih amat sempit. Agama waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa banyak dari perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya juga, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu didiami oleh mahluk-mahluk halus yang lebih berkuasa.

3.    Teori Krisis dalam Hidup Individu
       Pandangan ini berasal antara lain dari sarjana-sarjana seperti M. Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), dan diuraikan secara luas oleh A. Van Gennep dalam bukunya yang terkenal, Rites de Passages (1909). Menurut sarjana-sarjana tersebut, dalam jangka waktu hidupnya manusia mengalami banyak krisis yang menjadi obyek perhatiannya, dan yang sering amat menakutinya. Betapapun bahagianya hidup orang, ia selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam hidupnya.

4.    Teori Sentimen Kemasyarakatan
       “Teori Sentimen Kemasyarakatan”, berasal dari seorang sarjana ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis bernama E. Durkheim, dan diuraikan olehnya dalam bukunya Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse (1912). Durkheim yang juga menjadi amat terkenal dalam kalangan ilmu antropologi budaya, pada pangkalnya mempunyai suatu terhadap Tylor, serupa dengan celaan Marett tersebut di atas. Beliau beranggapan bahwa alam pikiran manusia pada masa permulaan perkembangan kebudayaannya itu belum dapat menyadari suatu faham abstrak “jiwa”, sebagai suatu substansi yang berbeda dari jasmani. Kemudian Durkheim juga berpendirian bahwa manusia pada masa itu belum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti perubahan dari jiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.
Desa balun merupakan desa yang terkenal dengan sebutan desa pancasila tersebut memang suatu desa yang rukun meski didalamnya terdapat beberapa agama, yaitu Isalam, Kristen, hindu, dan hindu. Namun meskipun dalam satu desa balun tersebut ada beberapa agama yang terdapat didalamnya mereka tidak pernah bermusuhan antar warga satu dengan yang lainnya. Menurut salah satu  pemuka agama yang ada di sana orang orang yang ada di desa balun tersebut mempunyai prisip, yaitu “Urusanku urusanku – urusanmu urusanmu”. Bukan hanya itu saja, dalam satu rumah ada tiga atau dua agama. Namun mereka tidak pernah bercekcok atau bermusuhan satu dengan yang lainnya.
Ada beberapa faktor yang dapat mendorong terciptanya harmoni diantara warga desa balun menurut (Muchtar, 2003: 225), yaitu:
1.    Adanya pola hidup kekerabatan.
2.    Adanya kelompok umat akar rumput/paguyuban.
3.    Adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
4.    Nilai-nilai luhur yang dihayati oleh masyarakat.
5.    Adanya kerukunan hidup antar umat ber- agama.
6.    Adanya tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berpe- ngaruh.
Dalam bukunya Geertz mencefinisikan agama sebagai:
1.    Sebuah sistem-sistem simbol yang berlaku untuk.
2.    Menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan.
3.    Merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi.
4.    Membungkus kon- sep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas.
5.    Suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.
Sebagaimana dipahami, harmoni adalah kondisi hubungan waga yang intim walaupun terdapat perbedaan – perbedaan. Sebuah kehidupan sosial diumpamakan dalam perspektif Emile Durkheim (1858-1917). Akan terbangun karena adanya solidaritas sosial yang merupakan suatu keadaan hubungan antara individu/kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaaan yang dianut bersam dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Solidaritas berdasarkan hasilnya menurut Durkheim, dapat dibedakan antara solidaritas positif dan solidaritas negatif. Solidaritas negatif tidak me- nghasilkan integrasi apapun, dan dengan demikian tidak memiliki kekhusu- san, sedangkan solidaritas positif dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri :
1.    Yang satu mengikat individu pada masyarakat secara langsung, tanpa perantara.
2.    Suatu sistem Mohammad Isfironi, Proyek Identitas Kultur Kerukunan 249 fungsi-fungsi yang berbeda dan khusus, yang menyatukan hubungan-hubu- ngan yang tetap, walaupun sebenarnya kedua masyarakat tersebut hanyalah satu saja.
3.    Dari perbedaan yang kedua itu muncul perbedaan yang ketiga, yang akan memberi ciri dan nama kepada kedua soli- daritas itu.

G. Kesenian

    Secara umum pengertian yang dikandung dalam kata seni atau kesenian berasal dari art yang mempunyai arti yang luas, diantaranya adalah suatu hasil kegiatan manusia yang indah secara indivu atau kelompok, berkualitas tinggi dalam konsep dan pembuatannya dalam menghasilkan sesuatu yang indah, sesuatu yang benilai estesis, suatu ketrampilan khusus dalam penampilan.
    Obyek kesenian yang ada dalam keberagaman agama di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan ini diantaranya terdiri dari tiga agama yang berbeda salah satunya agama islam, Kristen dan hindu. Dilihat dari segi kesenian memilikin karakteristik dan jenis-jenis yang berdeda antara satu dengan agama lain. Mengingat agama memiliki ciri khas tersendiri dalam memberikan kesenian terhadap budaya masyarakat yang tentunya bertujuan untuk umatnya sendiri.
    Jenis kesenian yang di pakai sendiri memiliki berbagai cara dan alat yang membedakan agama satu dengan yang lainnya, lain halnya saja agama islam di Desa Balun sendiri memiliki kesenian berupa musik hadrah, yang dimana dimaksudkan sebagai proses penyampain pesan atau dakwah. Biasanya musik hadrah ini dimainkan ketika ada acara besar Islam dan dalam kegiatan pernikahan. Dari agama Kristen sendiri memiliki kesenian tersendiri untuk digunakan sebagai media dakwah, salah satunya adalah paduan suara gereja, yang dimana dilakukan ketika proses beribadah pada umat Kristen. Paduan suara ini sendiri sangat sering di dengar ketika beribadah maupun acara-acara besar umat nasrani. Lain halnya lagi agama Hindu dengan kesenian gamelan bali. Gamelan bali ini sendiri biasa dimainkan ketika ada hari-hari besar dalam kalender agama hindu. Dengan kata lain setiap agama memiliki cara ataupun alat yang berbeda dalam kesenian, yang bertujuan sebagai bahan untuk berdakwah.
    Seni sebagai kesatuan integral terdiri dari empat komponen esensial, yaitu karya seni (wujud benda, visualisasi), kerja cipta seni (proses penciptaan, teknis), cipta seni (pandangan, konsep, gagasan, wawasan), dasar tujuan seni (estetis, logis, etis, manfaat, ibadah). Keempat komponen tersebut berkesesuaian dengan kategori-kategori integralis seperti materi, energi, informasi, dan nilai-nilai. Dengan demikian pada hakikatnya seni adalah dialog intersubjektif dan kosubjektif yang mewujud dalam keempat komponen seni. Menurut wawasan islam, intersubjektif dapat bermakna hablumminallah dan kosubjektif bermakna habluminannaas yang mencerminkan adanya hubungan vertikal dan hubungan horizontal.

The Liang Gie berpendapat bahwa seni mengandung beberapa nilai, mencakup nilai keindahan, nilai pengetahuan, dan nilai kehidupan. Begitu juga dengan kesenian yang berkembang di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Karena didaerah tersebut terdapat berbagai agama yang antara lain islam, Kristen, dan hindu. Maka dari itu dengan adanya bebrapa macam agama pastilah akan menimbulkan beberapa kesenian khas atau kesenian yang identic dengan agama – agama tersebut.
Yang tentunya dari berbagai macam kesenian yang bernuansa agamis tersebut akan mengandung suatu nilai keindahan yang nantinya akan menimbulkan kekaguman tersendiri kepada masyarakat yang menikmatinya. Dan berikutnya mengandung nilai pengetahuan yang nantinya pasti setiap kesenianm yang berkembang mempunyai makna tersendiri yang membawa manusia mengetahui hal – ha;l yang belum dia ketahui menjadi tahu. Yang teraklhir adalah nilai kehidupan, dari setiap kesenian setiap agama akan berbeda – beda yang pasti setiap kesenian mengandung berbeda – beda pelajaran hidup yang nantinya bisa digunakan sebagai pedoman sehari – hari.
Ada beberapa fungsi dan tujuan didalam kesenian yaitu antara lain :
a.    Fungsi religi / keagamaan, kesenian bertujuan untuk media dakwah untuk menyebarkan agama – agama, ataupun untuk menyampaikan pesan – pesan rohani untuk masyarakat.
b.    Fungsi pendidikan, kesenian bertujuan untuk media pembelajaran. Seperti grup musik tradisional angklung yang nantinya didalamnya akan menimbulkan suatu kerjasama organisasi untuk mencapai tujuan yaitu keserasian.
c.    Funsi komunikasi, kesenian digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan dengan melalui suatu media seperti pewayangan untuk menyampaikan suatu pesan – pesan.
d.    Fungsi artistic, kesenian digunakan sebagai media untuk menyampaikan ekspresi seseorang.
Ada bebrapa kesenian yang biasa diselenggarakan di Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Antara lain adalah kesenian Ogoh – ogoh, kesenian tersebut memang identik dengan agama hindu, yang biasanya dilakukan atau diadakan pada saat selesai upacara nyepi atau hari raya nyepi yang dilakukan umat hindu. Yang nantinya ditutup dengan karnaval atau iringan Ogoh – ogoh. Ogoh – ogoh sendiri yaitu sebutan dari patung – patungan yang dibuat masyarakat yang menyerupai buta atau perwujudan perbuatan buruk yang makanya dibuat sangat buruk rupa sebagai symbol angkara murka yang nantinga di iringi – iringi keliling kampung dan kemudian dibakar sebagai symbol menghilangkan angkara murka.

KESIMPULAN

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari banyak pulau dan penghuninya. Masyarakat yang tinggal di dalamnya sangat beragam, terutama masyarakat beragama. Di indonesia agama yang dianut tidak hanya satu melainkan ada enam yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Masyarakat bebas untuk memilih bagaimana mereka akan menjalani kehidupan dengan memegang kepercayaan kepada Tuhan dengan cara memeluk satu agama yang diyakini. Namun hal itu tidak bisa lepas dari toleransi antar umat beragama. Sebagaimana disebutkan dalam kelima sila yang ada di Indonesia, masyarakat harus mempercayai tuhan dan menjalani kehidupan dengan adil, bijaksana, dan bersatu. Meskipun kita mempunyai kepercayaan yang berbeda bukan berarti kepercayaan yang lain itu adalah salah. Kita harus menghormati kehendak dan keputusan orang lain dalam mempercayai suatu agama. Selanjutnya kita harus selalu toleransi dan tetap bersatu sehingga kita bisa menjadi satu kesatuan yang disebut Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA 

Durkheim, Emile, 1954, The Elementary Forms of The Religious Life. trans. By Joseph Ward Swain (Glencoe, III : The Free Press, George Allen & Unwin Ltd.
 Elizabet K. Nottingham, 1985. Agama dan Masyarakat: Suatu pengantar
Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius: Yogyakart
Joeyz, Iwan. Hubungan Agama dan Budaya. Http://ukpkstain.multiply.com/journal/ item/49. Diakses tanggal 1 Desember 2009.
Romdhon, et. al, Agama-agama di Dunia, IAIN Sunan Kalijaga , Press, Yogyakarta, 1988, hlm. 18-19
Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama Perspektif Ilmu Perbandingan Agama, CV Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 40-41.
Hilman Hadi Kusuma, Antropologi Agama Bagian I (Pendekatan Budaya Terhadap Aliran kepercayaan, Agama Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, di Indonesia), PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 32-33.
Geertz, Clifford. Interpretation of Cultures: Selected Essays (New York: Basic Books, 1973).
Isfironi, Mohammad. “Pemikiran Keagamaan Kiai di Situbondo: Studi Pendekatan Fiqh dalam Merespon Masalah Sosial Keagamaan”. Tesis S.2 (Malang: UNISMA Malang, Program Pascasarjana, 2002). --------, Agama dan Solidaritas Sosial: Studi terhadap Tradisi Rasulan Masyarakat Gunung Kidul DIY. Laporan Penelitian (Yogyakarta: 2009).

0 komentar: