1.    BAHASA Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. D...

Komunikasi Lintas Budaya : Masyarakat Pasir di Kabupaten Sumenep

April 05, 2017 vivi lutviana 0 Comments


1.    BAHASA

Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Dalam hal ini maka Ernts Cassirer menyebut manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berpikirnya manusia mempergunakan simbol. Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Lebih lanjut lagi, tanpa kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaan nya, sebab meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. “Tanpa bahasa” simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing dan monyet”.
Salah satu contoh yang ada adalah Bahasa Daerah Madura yang mana meski madura hanya ada satu pulau tetapi keberagaman bahasa madura sangat lah banyak dan unik, seperti halnya dari cara penyampaiannya dan juga kata-katanya. Untuk bahasa yang terdapat pada masyarakat Legung Timur, Barat, dan Depende Sumenep sendiri yang sesuai dengan observasi kami, disini terdapat suatu fakta yang unik dimana masyarakat sumenep dalam tata  cara penyampaian nya lebih halus dan pelan berbeda dengan masyarakat madura yang berada di kabupaten bangkalan yg identik dengan penyampaian nya yang  lantang sehingga terkesan kasar, tidak hanya itu dalam bahasa yang ada pun sangatlah berbeda meskipun tidak banyak salah satunya adalah “Lok oning” dan “Tak oning” disini “lok” dan “tak” mempunyai makna yang sama yakni tidak, dan untuk bahsa yang pengucapannya sama dan maknanya beda tidak terdapat dalam bahasa madura, dan juga bahasa nonverbal mereka juga mempunyai makna yang sama.
Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dimana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu obyek tertentu meskipun obyek terebut secara faktual tidak berada ditempat dimana kegiatan berpikir itu dilakukan. Binatang mampu berkomuniksi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama obyek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual waktu proses komunikasi itu dilakukan. Tanpa kehadiran obyek secara faktual maka komunikasi tidak bisa dilaksanakan.
Kalau kita telaah lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dan sikap. Atau seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan menusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Komunikasi dengan mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif ini. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa di terima secara reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Namun dalam prakteknya hal ini sukar untuk dilaksanakan kecuali informasi yang terdapat dalam buku pedoman telepon. Inilah yang merupakan salah satu kelemahan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana menurut Kemeny bahasa mempunyai kecenderungan emosional

2.    SISTEM PENGETAHUAN

Seorang filsuf berpantun
“Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya”
Dalam hal Ilmu Pengetahuaan, anak - anak suku Madura sudah semenjak kecil disuruh untuk mencari ilmu dan mengaji  Al-Quran, agar mereka bisa mendapatkan pembelajaran mengenai etika, bahkan di Madura bagi orang – orang yang tidak sopan dalam hidup bermasyarakat entah remaja ataupun orang tua, bisa dikatakan orang yang tidak mengenal tak battonna langgar kata - kata ini bisa di artikan orang yang tidak pernah belajar etika karena tidak pernah pergi mengaji.  Mungkin mereka kurang sopan karena belum pernah pergi ke institusi pendidikan yang di Madura di kenal dengan Langgar atau surau yang digunakan sebagai tempat belajar.
Melemahnya kwalitas pendidikan masyarakat Madura disini tidak terlepas dari pengaruh sistem pendidikan nasional yang selama ini kita kembangkan, di mana, sistem pendidikan nasioal jauh dari akar budaya dan jauh lingkungan anak didik. Pada gilirannya, anak didik sebagai generasi yang diharapkan menjadi suri tauladan didaerahnya, terasing dari lingkungan masyarakatnya sendiri. Pendidikan yang tidak berlandaskan kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Anak didik pandai di negeri orang, tetapi bodoh di negeri sendiri.
Realitas tersebut merupakan implikasi dari perubahan sistem pendidikan kita yang hanya mengandalkan pada silabus yang mengarah pada satu sistem pendidikan dan tidak berlandaskan pada kebudayaan, dan hal itu akan menghasilkan anak didik yang mekanik seperti mesin serta manusia-manusia yang orentasi pemikirannya pada kerja, bukan pengetahuan. Dengan kata lain, sistem pendidikan kita memberi kesan bahwa kesuksesan sebuah proses pendidikan hanya terletak pada satu instrumen teknis-operasional yakni kurikulum. Lembaga pendidikan yang tidak mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh pusat (mendiknas) maka proses pendidikan yang dijalankan akan mengalami kegagalan. Sehingga masyarakat Madura yang beragam dan agamis serta lebih mengedepankan nilai-nilai kebudayaan disulap menjadi masyarakat yang lupa pada akar budayanya. Tak jarang orang Madura yang tidak tahu bahasa Madura. Tidak sedikit putra-putri Madura yang tidak mengerti kebudayaan Madura. Bahkan ada yang merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri.
Dari itu, sistem pendidikan yang hanya bergantung pada satu instrumen tersebut, atau lebih tepatnya disebut dengan sistem pendidikan individual itu, tidak akan mampu mencerdaskan dan mengangkat derajat masyarakat Madura khususnya dan bangsa secara menyeluruh. Hal tersebut, yang menjadi faktor utama adalah karena sistem pendidikan yang dihasilkan selama ini hanya berangkat dari konsep segelintir orang yang cendrung meniru pola pikir dari barat bukan dari hasil pengamatan dan penelitian terhada budaya, terutama di Madura.

KONDISI PESERTA DIDIK SUMENEP DALAM MEMAHAMI BUDAYA

Selaras dengan masalah yang dialami Sumenep secara umum terkait budaya, seharusnya peserta didik harus memiliki kecerdasan yang lebih dalam memandang budaya, namun kondisi tersebut tidak tercermin dalam diri peserta didik dikabupaten Sumenep. Pemangku Kebijakan diSumenep dituntut dapat mengembangkan peserta didik sesuai tuntutan zaman global dan kondisi lingkungan lokal. Sebagaimana tuntutan tersebut terangkum dalam berbagai aspek kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional serta kecerdasan social (Ary Ginanjar Agustian, 2006). Namun penulis menillai perlu ada kriteria kecerdasan penyempurna untuk peserta didik yaitu terkait kecerdasan cultural.
Kabupaten Sumenep harus menerapkan sistem pendidikan yang memenuhi 5 konsep kecerdasan diatas. Apalagi kabupaten sumenep dipahami sebagai kabupaten yang sangat terkenal dengan kekuatan dan keragaman budayanya. Secara penerapan sistem pendidikan Sumenep selama telah memenuhi beberapa aspek kecerdasan diatas namun tidak pada segi kecerdasan cultural. Kabupaten Sumenep  dalam sektor pendidikan dinilai belum melaksanakan penerapan sistem yang mengarah terhadap perkembangan kecerdasan kultur pada peserta didiknya. Peserta didik cenderung bersifat dan bersikap kebarat-baratan, hal ini dipengaruhi oleh keterbukaan informasi yang dibingkis dengan virus westernesasi dan pada  menggerus kultur lokal pada diri peserta didik.

KONSEP CULTURE-BASED EDUCATION SYSTEM

Ketika kami melihat realitas terkait kabupaten sumenep yang mengalami degradasi kebudayaan yang berimbas terhadap peserta didik dikabupaten Sumenep, sehingga peserta didik memiliki kecendungan yang tidak menggambarkan budayanya, akhirnya hasil analisa dan penelitian kami mengahasilkan suatu konsep yang dimana dapat dilakukan pada kalangan peserta didik dengan menginovasi penerapan sistem pendidikan dikabupaten Sumenep.
Dimana jika dalam berbagai teori tentang peserta didik peserta didik dituntut untuk menguasai berbagai skill yang meliputi intelektual skill, spiritual skill, emosional skill, dan sosial skill. Kondisi peserta didik Sumenep memiliki suatu tuntutan untuk menguasai suatu skill kecerdasan kultur, yang diamana dengan adanya perpaduan beberapa skill tersebut diharapkan dapat membentuk persons peserta didik yang berotak global dan berjiwa lokal Janet (Wolff, 2007).
Maka disini kami mencoba memberikan solusi penerapan sistem yang berbasis kultur. Sehingga kultur yang telah mengalami degradasi dapat direvitalisasi kembali khususnya dikalangan peserta didik kabupaten Sumenep. Solusi yang kami tawarkan yaitu suatu gagasan yang menjadi solusi atas degradasi kultur yang dialami oleh peserta didik, gagasan tersebut berjudul “Konsep Culture-Based Education System ; Sistem Pendidikan Berbasis Budya Lokal sebagai solusi Mengatasi Degradasi Budaya pada Peserta Didik Kabupaten Sumenep“  yaitu sebuah konsep sistem pendidikan yang berbasis kultur khususnya kultur lokal (Kabupaten Sumenep). Konsep sistem ini dalam perumusannya mengacu berbagai aspek kebudayaan khususnya kebudayaan Sumenep, mulai dari sarana prasanan pendidikan, Etika /Gaya Hidup Peserta didik, Bahasa Keseharian Peserta didik, Cara berpakaian Peserta didik, Hingga Sistem Kurikulum Akademiknya.
Adapun beberapa hal yang harus dirumuskan dalam Konsep Culture-Based Education System dikabupaten Sumenep ini, meliputi:
1.      Perumusan Desain Sarana dan Prasarana Pendidikan
Perlu adanya suatu pengaturan ruangan pembejaran yang memuat tentang kultur Sumenep, misalnya ; Adanya suatu lukisan-lukisan ruangan pembelajaran yang sesuai dengan rumah adat Sumenep, Dekorasi Banguanan bergambarkan Budaya-budaya Sumenep (Tandek, Sape Sonok dan lain-lain).
2.      Perumusan Aturan Etika/ Gaya Hidup Peserta Didik Sumenep
Adanya suatu peraturan etika atau gaya hidup yang melambangkan cara hidup masyarakat sumenep yaitu pekerja keras, lembut, agamis menjunjung tinggi Etika misalnya menyambut peserta didik dengan bersalim, Mengucapkan salam Saat mengawali Komunikasi atau bertemu dan lain-lain.
3.      Perumusan Aturan Berpakaian Khas Sumenep Diakhir Pekan
Adanya pembuatan aturan agar peserta didik berpakain rapi dengan batik yang berciri khaskan masyarakat Sumenep, bahkan jika memungkinkan dapat berpakaian tebek dan bersampir bagi kaum perempuan disetiap akhir pekan (hari Sabtu).
4.      Perumusan Sistem Kurikulum Pengajaran Berbasis Budaya Lokal
Dalam kurikulum pendidikan secara penilaian dengan menambahkan kriteria penilaian terhadap etika, cara berpakaian serta perlu adanya suatu mata pelajaran wajib yang membahas tentang budaya.

3.    SISTEM MASYARAKAT / ORGANISASI SOSIAL

Sistem organisasi atau sistem sosial yang ada di Desa Legung Timur, Legung Barat, Dapenda, Kecamatan Batang Batang, Kabupaten Sumenep masih sangat kental dengan nuansa kekeluargaannya. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya acara kumpulan antar warga atau organisasi masyarakat. Organisasi masyarakat adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Di Desa Legung Timur ini, ada beberapa organisasi masyarakat atau perkumpulan warga antara lain ada organisasi atau perkumpulan Diba' yang dilaksanakan rutin setiap malam Jumat. Diba' ini adalah membaca kitab yang berisi bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Acara ini diikuti oleh kaum perempuan dari berbagai kalangan, selain untuk membaca shalawat, diba' juga sebagai ajang silaturahmi antat warga yang ada di desa ini. Karena suasananya yang masih pedesaan, maka masih banyak warga yang turut andil dalam acara ini. Selain itu, ada lagi acara khataman yang rutin diselenggarakan setiap 6 bulan sekali. Khataman ini diikuti oleh seluruh warga, warga akan pergi ke masjid desa setempat untuk melakukan khataman quran bersama. Biasanya khataman quran akan dibagi per kelompok akan dapat satu jus dan dikhatamkan. Untuk organisasi kepemudaan seperti karang taruna, di desa ini masih tidak ada.
Ketika ada anggota keluarga yang menikah, maka akan tetap tinggal satu rumah dengan anggota keluarga sebelumnya, tidak mendirikan rumah sendiri. Karena masih banyak rumah yang berbentuk tanean lanjheng dimana rumah ini banyak memiliki ruang dan juga panjang sehingga terbilang cukup luas untuk anggota keluarga yang besar atau banyak. Untuk warga yang akan pindah dari tempat itu, biasanya mereka juga membawa pasir dari daerah sana untuk dipakai atau digunakan sebagai kasur pasir di daerah pindahnya, seperti salah satu keluarga dimana anaknya pindah rumah ke pamekasan, anggota keluarga itu akan membawa pasir dari daerah asalnya.
Organisasi sosial oleh Koentjoroningrat dikategorisasikan sebagai salah satu unsur kebudayaan universal. Unsur-unssur budaya ada dan dapat diperoleh dari berbagai macam kebudayaan yang ada diseluruh dunia. Koentjoroningrat menguraikan posisi organisasi sosial ini menjadi kian penting dalam sebuah masyarakat terutama dalam meneliti masyarakat desa atau masyarakat yang belum modern. Dalam masyarakat pedesaan, sistem kekerabatan masih sangat erat sehingga dalam pemenuhan kebutuhan satu sama lain, akan banyak membutuhkan peranan seseorang atau individu yang lainnya. Berbeda dengan masyarakat yang sudah  modern. Karena dengan perkembangan zaman serta perkembangan tekhnologi yang begitu cepat serta mudah, mereka juga dengan mudahnya akan mendapatkan yang mereka inginkan dengan cepat, bahkan tanpa perantara individu lainnya, maka dari itu masyarakat Modern didaerah perkotaan cenderung lebih apatis dan tertutup dibandingkan masyarakat pedesaan yang lebih terbuka dengan kedaan sosial.
Adanya kesamaan Organisasi di Desa Legung Timur yakni dalam bidang keagamaan, membuktian bahwa masyarakat disana sistem kekerabatannya masih sangat tinggi. Terbukti dengan diadakannya rutinan Diba’ dan Khataman setiap 6 bulan sekali membuat warga masih dalam kategori masyarakat sosial yang masih terbuka. Selain itu, dari demografi dimana mereka bertempat tinggal di tepi pantai juga menjadi salah satu faktor masyarakat masih menjunjung toleransi dan kekerabatan satu sama lain. Masyarakat pesisir akan saling bantu membantu dalam urusan mencari ikan dan urusan kelautan lainnya seperti mendorong perahu ke laut. Dengan hal sederhana ini, membuktikan bahwa masyarakat masih respect antara satu warga dengan warga lainnya. Selain itu, rumah penduduk yang masih khas pedesaan yakni tanpa adanya pagar tinggi menjulang, dan adanya kursi didepan halaman warga membuat antar tetangga bisa leluasa dalam bertamu ke satu rumah ke rumah lainnya. Beda halnya dengan rumah perkotaan yang memiliki pagar yang tinggi menjulang sehingga sekitarnya juga menjadi enggan untuk bertamu.

4.    SISTEM TEKNOLOGI

Pada masyarakat legung itu sendiri termasuk masyarakat yang mulai modern karena mereka mulai mengenal teknologi-teknologi yang sudah berkembang luas dimasyarakat. Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer ( softwerw & hardwere) yang digunakan untuk memproses atau menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk untuk mengirimkan informasi (martin 1999) . Dimasyarakat legung ini khususnya legung barat mereka sudah ikut serta memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada, para orang tua mulai mengenalkan teknologi yang ada kepada anak-anaknya. Menurut kepala desa (klebun) di desa legung itu bukan hanya remajanya yang menggunakan HP namun mulai dari semua kalangan bahkan anak SD pun sudah mengenal HP android, hp android itu biasanya digunakan untuk main game dan untuk mencari materi tugas sekolah. Bukan hanya HP namun masyarakat llegung barat itu juga mulai mengenal teknologi informasi yang lainya seperti TV, setiap rumah yang ada di pinggiran pesisir itu hampir mayoritas sudah memiliki televisi mereka memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendapatkan informasi dari luar. Dengan adanya teknologi yang semakin maju ini tidak mengubah budaya dari masyarakat legung itu sendiri, mereka masih kekeh mempertahankan budaya mereka, meskipun dengan adanya televisi mereka bisa mendapatkan informasi atau iklan-iklan yang ada namun mereka masih tetap mempertahankan tradisi mereka dengan tidur atas pasir yang sudah mereka sediakan pada petak-petak kamar didalam rumah mereka masing-masing, meskipun iklan pada tayangan televisi memberikan informasi tentang tempat tidur yang nyaman dan aman. Bukan hanya pada masyarakat legung namun keadaan ini juga terdapat pada masyarakat legung barat dan juga dapenda. Masyarakat legung barat ataupun depande juga sama mereka masih menjaga budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu.

5.    SISTEM MATA PENCAHARIAN

Warga batang sumenep yang biasa disebut dengan manusia pasir, mayoritas mata pencariannya dikenal sebagai nelayan dan sebagain lainnya pedagang dan bertani . Mata pencarian nelayan warga batang sumenep tingkat kompetisinya lebih tinggi dibandingkan pedagang dan bertani hal tersebut dibuktikan dengan tersedianya lapangan kerja yang  cukup banyak sebagai nelayan yang disebabkan oleh lingkungan yang dikelilingi lautan. 
Warga batang juga mengelola pembedayaan kelautan untuk mata pencariannya, diantara lainnya adalah:
1.    Budidaya laut
melihat dari kondisi lingkungan dan indikasi dari hasil tangkapan ikan karang yang cukup besar didesa lombang kecamatan batang batang mempunyai prospek untuk dikembangkan budidaya ikan karang.  Beberapa hal yang mendukung upaya pengembangan budidaya ikan karang di lautan lombang antara lain :
-    Mempunyai potensi wilayah yang cocokuntuk usaha budidaya ikan karang
-    Tingkat curah hujan rendah
-    Berada diantara pulau pulau yang tidak terjadi erosi dan mempunyai air yang stabil
2.    Sektor pariwisata bahari
Didesa lombang kecamatan batang batang sumenep memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari. Lokasi yang dapat dikembangkan sebagai wisata bahari tersebut terdapat dilautan lombang. Lautan lombang memiliki keindahan alam berupa pasir putih gading yang sangat lembut dan keindahan terumbu karang.

    Mata pencarian warga batang batang juga bercocok tanam pohon cemara udang, pohon cemara udang disana memiliki harga yang cukup mahal dan tinggi, cemara udang tersebut hanya terdapat dikota sumenep. 


6.    SISTEM RELIGI
Semua orang didaerah sana semua mayoritas orang islam .terdapat 4 orang yang menganut agama tionghoa itupun kata warga sudah ada yang pindah tidak diketaui jelas apa yang membuat mereka lebih memilih pergi meningalkan daerah tersebut .semua warga disana belum terkontaminasi dengan budaya asing .mereka selalu memberikan selametan untuk laut tetepi disini selametanya unik yaitu setiap desa perwakilan 15 orang .dan ada 3 desa masing masing 15 orang perdesa yang mengadakan selametan .selametan diadakan setiap tahun sekali yaitu dengan tumpang didoakan di  tepi sungai lalu diarak ke laut untuk persembahan.
Selain itu warga masyarakat rumah pasir juga mengadakan ritual jikalau ada keluarga yang membuat pasir untuk dijadikan kasur atau tempat tidur di pindahkan dengan meggunakan ritual yaitu berdoa bersama tradisi  itu sudah dilestarikan sejak nenek moyang atau turun temurun .
Sedangkan menurut pandangan islam pasir di pinggir pantai itu terdapat kotoran hewan yang bisa saja itu najis dan orang orang dipinggir pantai itu tidak mensucikan pasir tersebut. Sedangkna orang orang yang tidur dikasur pasir itu rata rata beragama islam dan melaksanakan sholat. Orang-orang yang menggunakan pasir tersebut hanya diayak sampai lembut dan tidak mensucikan pasir tersebut.
Masyarakat juga mengkhitan perempuan, warga setempat menjalankan khitan perempuan untuk menjalankan syariat agama islam dan sunah rosul yang sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat pasir meski mereka banyak yang salah presepsi terhadap hukum menghkitan perempuan yang sesuia dengan syariat agama Islam. Namun mereka tetap melakukannya karena anggapan untuk mengislamkan si anak dan sudah menjadi tradisi masyarakat yang susah untuk di hapuskan meski banyak yang kontroversi yang timbul didalam maupun luar negeri.
Pernikahan  merupakan salah satu unsur kebudayaan yang berpengaruh dan cukup penting bagi masyarakat. Istilah pengantan tadhu secara garis besar berarti pengantin yang diusung menggunakan tadhu, sedangkan pengertian secara lengkap adalah adat pernikahan masyarakat legung kecamatan batang batang kabupaten sumenep yang setiap proses tahapan pelaksanaan mempelai wanita di usung menggunakan tadhu. Pernikahan dilakukan secara agama islam fungsinya sebagai alat mempertebal rasa solidaritas secara kolektif sebagai alat pndidikan sebagai alat peningkatan ekonomi sebagai pengesahan dan pelestarian kebudaayaan sebagai sarana rekreatif an sebagai upaya pelaksaanaan melaksanaakan keturunan. Makna simbolik yang terkandung dalam tradisi adalah menjunjun tingg nilai pernikaha serta kehormatan terhadap kaum waanita yang sudah bersuami .selain itu juga bermakna bahwa di tengah tengah arus globalisasi, mereka tetap konsisten dalam menjaga kebudayaan mereka. Begitu juga kehidupan gotong royong yang masih kental dan rasa keberamaan merupakan karakter khas dari masyarakat. Nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut berujung pada nilai moral sosial yang meliputi niai ketuhanan, menghormati orang lain, kegotong royongan, mempererat hubugan kekeluargaan, kerukunan begitu juga pada nilai moral individu yang meliputi tanggung jawab, permohonan restu, kemandirian, kesabaran, kepatuah dan rela berkorban.
Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Hakikat semua upaya manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia. Sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi, keruntuhan peradaban. Dalam hal ini maka agama memberikan kompas dan tujuan : sebuah makna, semacam arti, yang membedakan seorang manusia dari ujud berjuta galaksi. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan manusia berpaling kembali kepada nilai-nilai agama. Seperti juga seni dengan ilmu maka pun agama dengan ilmu saling melengkapi kalau ilmu bersifat nisbi dan pragmatis maka agama adalah mutlak dan abadi. Kiranya tak ada orang yang lebih tepat selain Albert Einstein untuk mengungkapkan hakikat ini dengan kata-kata, “ ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Dan ilmuan terkemuka ini pulailah yang lebih dari lima puluh tahun yang lalu terbata, “mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

7.    KESENIAN
Seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan mampu membangkitkan perasaan orang lain. Istilah seni berasal dari kata sanskerta darikata sani yang diartikan pemujaan, persembahan dan pelayanan yang erat dengan upacara keagamaan yang disebut kesenian. Menurut Padmapusphita dimana seni berasal dari bahasa Belanda genie dalam bahasa latin disebut dengan genius yang artinya kemampuan luar biasa dibawa sejak lahir. Sedangkan menurut Ilmu Eropa bahwa seni berasal dari kata art yang berarti artivisual yaitu suatu media yang melakukan kegiatan tertentu. Kesenian
Disini saya akan menjelaskan kesenian di daerah kampung pasir. Batang batang, sumenep. Disana terdapat banyak sekali buadaya dan kesenian yang bisa di ambil. Sebagai contoh ngejung, ketoprak dan tayub dll. Biasanya kesenian seperti ini diadakan beritngan dengan budaya yang ada. Tidak banyak imformasi yang saya dapat mengenai budaya di daerah tersebut. Tapi saya merasa budaya di daerah tersrbut asli dari nenek moyang pendahulu di daerah tersebut. Kesenian kesenian tadi diakan saat ada upacara upacara adat, dan tasyakuran. Jika mengakaji lebih dalam mengenai kesenian maka kita harus menyentuh kedalam sub sub seni tersebut. Disini saya tidak banyak mengabil sub kesenian di daerah batang batang tersebut. Mungki hanya tiga atau dua saja untuk dijadikan topik pembahasan kita.
Tari muang sankal
Tari muang sangkal adalah salah satu tarian asli Sumenep. Kini tarian tersebut menjadi ikon seni tari di Sumenep. Tari muang sangkal diciptakan oleh Taufikurrachman pada tahun 1972. tarian tersebut sejak diciptakan hingga sekarang sudah dikenal di luar Madura dan luar negeri. Tercetusnya tari muang sangkal dilatar belakangi banyak hal. Antara lain, kepedulian para seniman dalam menerjemahkan alam madura yang sarat karya dan keunikan. Juga mengangkat sejarah kehidupan kraton yang dulu pernah ada di Madura (Sumenep). Secara harfiah, muang sangkal terdiri dari 2 kata dari Bahasa Madura dengan makna yang berbeda. Muang mempunyai arti membuang dan sangkal bermakna petaka. Jadi, muang sangkal bisa diterjemahkan sebagai tarian untuk membuang petaka yang ada dalam diri seseorang. Sebenanya gerakan dalam tari muang sangkal tidak jauh berbeda dengan tarian pada umumnya. Namun, ada keunikan yang menjadi ciri khas tarian tersebut, antara lain: Penarinya harus ganjil, bisa satu, tiga lima atau tujuh dan seterusnya. Busana ala penganti legga dengan dodot khas Sumenep. Penarinya tidak sedang dalam datang bulan (menstruasi). Pada saat menari, para penari memegang sebuah cemong (mangkok kuningan) berisikan kembang aneka macam. Penari berjalan beriringan dengan gerakan tangan sambil menabur bunga yang ada dalam cemong itu serta diiringi gamelan khas kraton.
Macapat
Macapat merupakan sebuah istilah yang sangat asing bagi kalangan pemuda di jaman sekarang, sudah jarang sekali atau dapat dikatakan tidak ada kalangan pemuda yang mengetahui hal tersebut, padahal istilah ini sangatlah populer di era 90-an. Sekarang, macapat hanya sekedar dikenal oleh orang-orang tertentu saja, seperti orang-orang yang masih menjaga nilai budaya dan kesenian serta orang-orang yang masih hidup dari era 90-an sampai sekarang. Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat di Madura lebih dikenal dengan istilah macopat yang mana pembacaan tembangnya lebih mengutamakan pada cengkok, karena memang tradisi ngejung lebih diperindah oleh cengkok pada sebuah syair atau kata-kata, dan hal ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang Madura di bagian timur (Sumenep) khususnya daerah batang batang ini. Tapi, pada saat ini macapat hanya dilakukan di acara-acara tertentu saja, seperti pernikahan, tasyakkuran, atau perkumpulan-perkumpulan yang hanya dilakukan 1 bulan sekali, itupun hanya di daerah tertentu saja.
Tayub
Seni Tayub merupakan sejenis kesenian tradisional masyarakat Madura, khususnya di Sumenep, lebih khusus lagi pada masyarakat pedesaan,  yang sedang mengalami dinamika mengejutkan. Eksistensi seni tayub, yang terdiri dari kerawitan (najaga), sinden, tokang tandhang (penayub), dan satu juru gelandang, menjadi semacam tradisi masyarakat bawah yang tidak hanya sarat dengan nilai estetika, tetapi yang tidak kalah penting adalah etika.
Estetika seni tayub terletak pada visualitasnya, apa yang tampak dan bisa diamati serta dinikmati mata, bukan hanya audio dengan cukup mengandalkan suara yang bagus disaat ngejung. Sebab masyarakat lebih tertarik, dan lebih memerhatikan cara tangdhang para penayub, dari pada materi suara mereka. Hal ini wajar dan sah, jika ada beberapa penayub yang hanya bisa nangdhang, tapi tidak bisa ngejung, karena pasti ada salah satu personil kerawitan yang ditugaskan untuk ngejung, sesuai dengan gending yang dipesan penayub. Sehingga sang penayub hanya tinggal menciptakan gerakan-gerakan tertu, mengikuti irama gendang dan gong, tanpa harus nembang / ngejung.Sedangkan etika seni tayub meliputi sejumlah hal yang sangat kompleks; mulai dari busana, cara berjalan dan duduk, cara berbicara, merokok dan makan, bahkan sampai pada materi kejung (tidak boleh ada unsur SARA) dan cara memperlakukan sinden. Semua etika tersebut harus dimiliki oleh para penayub agar mampu meraih simpati dan empati dari masyarakat pengggemar, layaknya bintang sinetron di dunia telenovela.
Ketoprak
Kelompok Ketoprak Madura Rukun Karya merupakan salah satu kelompok yang sudah dikenal oleh masyarakat di sekitar Sumenep. Kelompok ini juga sudah pernah mementaskan beberapa lakon tentang bhabhat Songennep dan beberapa cerita sejarah kerajaan Jawa dan Madura. Kesempurnaan tata artistik panggung dan tata laku pemain, membuat kelompok Rukun Karya menjadi idola masyarakat, sehingga setiap pertunjukan yang dibawakan oleh komunitas ini sangat digemari oleh masyarakat Madura, bahkan sampai ke kota - kota mandalungan di daerah Jawa seperti Probolinggo, Situbondo, Jember, Bondowoso dan kota lainnya, Namun yang menjadi daya tarik adalah salah satu aktor sekaligus pimpinan komunitas ini, yaitu bapak Edy Suharun. Masyarakat sangat menggemari beliau dalam memerankan lawakan. Setiap ada pertunjukan Ketoprak Madura, masyarakat Sumenep khususnya selalu menunggu lawakan Edy Suharun. Komunitas Ketoprak Madura di Sumenep cukup banyak, namun yang sangat dikenal di kalangan masyarakat hanya kelompok Edy Suharun atau komunitas Ketoprak Madura Rukun Karya. Nama Edy Suharun merupakan julukan yang diberikan masyarakat kepada bapak Edy karena merupakan pewaris atau penerus dari bapak Suharun. Nama asli bapak Edy Suharun adalah bapak Edy Suhandi.
Istilah kata loddrok memiliki banyak tafsir bagi masyarakatnya. Mayoritas orang Jawa, begitu mendengar kata loddrok, pemahaman mereka adalah ludruk Jawa Timuran, dan pada masyarakat Madura saat mendengar kata ludruk pemahaman mereka pasti Loddrok Madura. Padahal pengucapan loddrok Madura adalah salah karena merupakan jenis ketoprak Madura. Ketoprak Madura sebagai salah satu kesenian tradisional, keberadaannya sangat terbatas dan termarjinalkan baik oleh masyarakat Sumenep maupun masyarakat luar.

KESIMPULAN

Budaya merupakan suatu hal yang harus dipertahankan karena itu merukan akar atau asal usul suatu masyarakat meskipun kadang kala masyarakat tersebut hanya mengetahui bahwa budaya itu turun temurun dari nenek moyang dan tidak tahu pasti bagaimana awalnya, disinilah kelemahan dari suatu budaya jika diturunkan melalui lisan tanpa ada suatu catatan historinya. Di dalam hal ini masyarakat pasir legung timur masih mempertahankan budaya mereka yaitu bergelut dengan pasir setiap hari tetapi masyarakat legung barat mulai menerima adanya teknologi meski tidak merata, dan utk masyarakat depende sendiri mereka masih mempertahankan budaya sekaligus teknologi mereka juga mengikuti di barengi dengan upaya cocok tanam cemara udang. 

DAFTAR PUSTAKA

Albert Einstein, “ Pesan kepada Mahasiswa California Institute of Technologhy”, Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Sumantri ( Jakarta: Gramedia, 1978), hlm,284.
Ernst Cassirer, An Essay on Man ( New Heaven: Yale University Press, 1944 )
Aldous Huxley, “Words  and Their Meaning”, The Importance of  Language, ed. Max Black ( Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall,1962),hlm.5.
George F. Kneller, Introduction to the Philosophy of Education (New York : John Wiley, 1964), hlm,28.
John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science ( New York: Van Nostrand,1959,hlm.5.
Jujun S. Sumantri, “Filsafat Ilmu”, Sebuah Pengantar Populer ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009)

0 komentar: