Pembahasan Komunikasi adalah hal yang sangat di perlukan didalam kehidupan sehari-hari baik dalam hal regular , di dalam bisnis atau ker...

Komunikasi Lintas Budaya : Vihara Avalokitesvara Pamekasan

April 14, 2017 vivi lutviana 0 Comments

Pembahasan
Komunikasi adalah hal yang sangat di perlukan didalam kehidupan sehari-hari baik dalam hal regular , di dalam bisnis atau kerja sama bahkan terbentuk dan majunya sebuah daerah juga desa adalah karena faktor dari komunikasi yang berlangsung sinkron termasuk juga dengan budaya sebuah daerah.
Menurut koentjtoroningrat  ada 7 faktor yang mempengaruhi terbentuknya dan persebaran budaya yaitu :
1.    Bahasa
2.    Sistem pengetahuan
3.    Organisasi sosial
4.    Sistem peralatan dan teknologi
5.    Sistem mata pencaharian
6.    Sistem religi
7.    Kesenian

1.    BAHASA
Persebaran budaya juga tidak terlepas dari bahasa kepemimpinan yang menjadikan itu sebagai culture atau lebih tepatnya bahasa sehari-hari (lokal) karena kepimimpanan atau asal usul sebelumnya memounyai andil  penting di dalamnya, menurut luthans mendefinisikan kepemimpinan sebagai sekelompok proses, kepribadian, pemenuhan, perilaku tertentu, persuasi, wewenang, pencapaian tujuan, interaksi, perbedaan peran, inisiasi strukture dan kombinasi dari dua atau lebih hal-hal tersebut. Tetapi juga banyak di dalam era seperti ini bahasa dianggap sudah tidak pada porsinya atau dalam tanda kutip lainya perkembangan budaya saat ini banyak disalah gunakan termasuk penggunanaan bahasanya contoh : bahasa slengean, meme.
Meme dapat  sangat berpengaruh dalam membentuk budaya dari suatu daerah dalam hal budaya bahasa nya di dalam dunia globalisasi saat ini banyak sekali percampuran budaya dimana terkadang dilakukan penyaringan atau pemilihan budaya baru yang harus disesuaikan dengan budaya lama yang sudah ada tetapi hal ini banyak tidak dilakukan oleh sebagian besar  masyarakat kita, dalam kata lain mereka hanya sekedar mengikuti tren tanpa memikirkan efek negatif dari penggunaan bahasa. Meme dapat berimplikasi dengan sendirinya (dalam bentuk peniruan ) dan membentuk suatu budaya, sebagai unit kecil dari suatu budaya richard dawskin dalam bukunya yang berjudul selfish gene menceritakan apa dan bagaimana dia menggunakan istilah meme untuk menceritakan apa dan bagaimana menjelakan persebaran ide ataupun fenomena budaya. Dawskin juga memberi contoh meme yaitu nada, kaitan dari susunan kata, kepercayaan, gaya berpakaian, dan perkembangan teknologi.
Dengan segala macam perkembangan tekhnologi dan remaja yang begitu peka terhadapnya proses use and gratification memiliki andil dalam femomena ini tidak bisa dipungkiri dengan adanya perkembangan baru teknologi yang menyuguhkan khalayak dengan banyaknya pilihan media, analisa motivasi dan kepuasan menjadi komponen  yang paling krusial dalam penelitian khalayak .
Dalam perjalanan individu untuk mencari identitas diri bahasa merupakan satu pokok kajian yang sangat mempengaruhi dan penting mereka pun mulai membentuk kelompok-kelompok yang memilki kesamaan nasib daerah bahkan asal usul, kelompok pada umumnya terbentuk karena memeiliki suatu kesamaan dapat menjadi sumber pembentukan perilaku dalam kata lain kesamaan daerah dan bahasa memiliki peran penting. Proses tersebut adalah contoh riil dari istilah general-expectancy-value phenomenon yang dikenalkan oleh palmgreen.
HASIL PENELITIAN
Menurut penelitian yang telah  kami lakukan di vihara avalokitesvara desa talang sirih kabupaten pamekasan provinsi jawa timur berpatokan pada teori serta penjelasan mengenai 7 faktor pendukung pembentukan budaya menurut koentjoro ningrat  hasil penelitian nya adalah  bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa lokal yaitu bahasa madura, tetapi jika terdapat upacara persembayangan atau hari-hari besar dalam keagamaan mereka menggunakan bahasa indonesia sebagai pemersatu, tetapi jika ada tamu dari luar madura yang kebetulan adalah keturunan asli dari umat budha maka mereka juga bisa menggunakan bahasa mandarin meski tidak selancar berbahasa indonesia dan madura sendiri.
Jika ditarik benang merah dari ketiga bahasa yang digunakan maka jelas terdapat perbedaan yang signifikan jika dilakukan perbandingan kata,pengucapan dan makna dengan bahasa jawa yang ada dilamongan , contoh :
1.     Pamekasan (madura)
·    mator sakalangkong = terimakasih 
·    saporana = maaf
·    ongguhen = seriusan? 
·    Mareh ngakan= sudah makan
2.    Lamongan 
·    matur suwun, suwun = terimakasih
·    ngaturaken sedoyo keluputan, sepurane ingkang katah, sepurane seng katah =  mohon maaf 
·    tenane, saestu = seriusan
·    sampun dahar, sampun maem,  sampun nedo = sudah makan
dikutip dari penjelasan bapak Anton selaku admin  dan pengurus dari vihara avalokitesvara “disini terdapat 4 agama dalam satu komplek bangunan yaitu budha,konghucu, hindu dan islam maka kita menggunakan bahasa indonesia dalam pertemuan atau beribadatan,  disini sangat kental unsur  harmonis dan menghargai setiap agama nya tidak jarang kita menggunakan bahasa madura  dan terkadang kita menggunakan bahasa mandarin jika ada tamu  dari luar kota seperti langkat,singkawang ataupun luar negeri “ ujarnya.
Dapat ditarik kesimpulan bahasa yang dominan digunakan dalam daerah itu adalah bahasa madura atau sekitar 50% , yang kedua adalah bahasa indonesia yaitu sekitar 30%. Sedangkan untuk mandarin sendiri adalah sekitar 20%. Maka hubungan bahasa dalam mempengaruhi suatu budaya dan keterkaitanya dengan 6 faktor lainya adalah bahasa mereupakan unsur pertama yang menjadi patokan orang-orang untuk mengetahui apa budaya yang dianut contohnya adalah jika mahasiswa dari daerah lamongan bertemu dengan mahasiswa dari madura maka yang mereka gunakan adalah bahasa indonesia, dan jika bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari satu daerah  maka mereka akan menggunakan bahasa daerahnya.
Referensi : Hafidz manaf, pengaruh kepemimpian, budaya bahasa organisasi dsn team work  terhadap kinerja organisasi pondok pesantren modern kabupaten ponorogo, tesis (makasar: universitas maula malik ibrahim)
Arshano sahar, studi observasi penggunaan situs 9gag dan  bahasa meme oleh remaja,  makalah non seminar, (depok: universitas indonesia )

2.    SISTEM PENGETAHUAN
Sistem pengetahuan adalah sistem yang terlahir karena manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lainnya juga dapat mengerti.Pengetahuan yang sifatnya sempurna dan sebagai objek yang benar-benar nyata dari bentuk aslinya, baginya ia akan permanen dan tidak akan pernah berubah. Keyakinan akan identifikasi semacam ini bisa disimak dalam ajaran ide-idenya, khususnya dalam konsep dua dunianya: dunia ideal dan dunia indrawi. Baginya, klaim bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman akal (pandangan ini dikenal dari kelompok empirisisme),sungguh sesuatu yang janggal adanya.
Uraian mengenai pokok-pokok khusus yang merupakan isi dari sistem pengetahuan dalam suatu kebudayaan, akan merupakan suatu uraian tentang cabang-cabang pengetahuan. Cabang-cabang itu sebaiknya dibagi berdasarkan pokok perhatiannya.
Dari hasil penelitian,masyarakat di daerah vihara tersebut hanya bersekolah sampai smp atau mereka terkadang lebih memilih untuk bersekolah di luar pulau Madura. Misalnya meneruskan SMA nya di Surabaya. Selain itu pada penelitian di gereja , mereka hanya menyediakan sekolah khatolik untuk TK,SD,SMP. Jadi jika ingin meneruskan sekolah khatolik harus pergi keluar atau dapat bersekolah di SMA umum.
Referensi : www.e-journal.com
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

3.    SISTEM MASYARAKAT/ ORGANISASI SOSIAL
Setelah kami melakukan penelitian di desa candih, kecamatan galis, kabupaten pamekasan tentang vihara yang ada disana yaitu vihara Avalokitesvara, yang didalamnya ada 4 icon agama ada islam, hindu, konghucu, budha.
Dalam satu tempat tetapi ada 4 agama itu sangat menarik sekali dan pasti kegiatan organisasi sosial yang dilakukan disini pasti juga berbagai macam seperti beribadah atau yang lainnya. Dari segi masyarakat sekitar para remaja yang ada disekitar desa candih tersebut mereka juga memiliki kegiatan sosial seperti karang taruna, dan jika masyarakat yang berbeda agama mereka akan melakukan ibadah seperti biasanya, atau sesuai hari ibadah mereka.  Karena setiap kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan tempat individu hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan dan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kaum kerabat lain. Kemudian ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitas. Karena tiap masyarakat manusia dan juga masyarakat desa, terbagi menjadi beberapa lapisan-lapisan, maka setiap orang di luar lapisan atau di luar kaum kerabatnya menghadapi lingkungan orang-orang yang lebih tingii daripadanya dan yang sama tinngkatnya. Diantara golongan terakhir ini adaorang-orang yang dekat padanya dan ada pula orang-orang yang menjauhinya.
Dalam organisasi sosial juga ada sistem kekerabatan, pengaruh industrialisasi yang sudah masuk semakin mendalam, tampak bahwa fungsi kesatuan kekerabatan yang sebelumnya penting dalam banyak sektor kehidupan seseorang, biasanya mulai berkurang seiring dengan bersamaan dengan adat istiadat yang mengatur kehidupan kekerabatan sebagai kesatuan mulai mengendor, karena seperti itu dipengaruhi budaya-budaya barat yang telah menjadi doktrin oleh masyarakat saat ini. Tapi lain halnya dengan masyarakat yang ada di desa candih atau lebih tepatnya masyarakat yang berada di sekitar vihara avalokitesvara ini bahwa mereka masih mengutamakan yang namanya kekerabatan dan sebuah organisasi dan mereka juga tidak mengesampingkan perbedaan mereka hidup dengan damai dan saling menghormati satu sama lain. Mulai dari kegiatan sosial yang apabila umat muslim lakukan maka mereka selain umat muslim akan menghormatinya begitupun sebaliknya.
Selain di vihara yang ada di pamekasan kita juga mengunjungi gereja kristen katholik yang ada di sebelah utara alun-alun pamekasan atau biasa disebut dengan arlan (arek lancor) disana ada sebuah gereja yang cukup besar, disana agamanya kristen katholik. Di gereja ini ada organisasi socialyang didirikan oleh agama disini, yaitu OMK (Orang Muda Katholik), ReMaKa (Remaja Katholik), WK(Wanita Katholik), dan FKUP(Forum Kegiatan Umat Pamekasan). Selain mereka mendirikan organisasi sosial mereka juga mengadakan kegiatan sosial diluar gereja seperti bakti sosial, mengadakan amal, bersedekah, mengunjungi penjara juga mereka lakukan dan itu rutin setiap bulan sekali, jadi tidak hanya melakukan kegiatan didalam gereja saja atau hanya sekedar beribadah didalamnya tetapi mereka juga melakukan kegiatan diluar agarlebih menyatu dengan masyarakat sekita, agar tidak terjadi perbedaan sosial juga, walaupun agama keristen katholik di daerah ini masih menjadi minoritas tetapi mereka tidak membatasi pergaulan atau kegiatan mereka, mereka juga mengunjungi penjara atau bakti sosial yang pasti didalam itu semua ada yang beragama selain kristen.
Juza l. H morgan menemukan suatu metode penelitian sistem kekerabatan yang sangat penting, yaitu bahwa beragam sistem kekerabatan itu erat sangkut pautnya dengan sistem istilah kekerabatan,suatu sistem kekerabatan tertentu dengan unsur tertentu sehingga untuk membuat suatu deskripsi mengenai sistem kekerabatan suku bangsa yang bersangkutan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

4.    SISTEM TEKNOLOGI
Sistem peralatan hidup (teknologi) yang merupakan uraian dari unsur kebudayaan menurut Koentjoningrat disini dijelaskan menurut Harsojo, system teknologi yang dimaksud adalah jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh para anggota suatu masyarakat, meliputi keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya dengan pengumpulan bahan-bahan mentah dari lingkungannya. bahan itu untuk dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat transportasi, dan kebutuhan lainnya yang berupa materi. Koentjaraningrat mengemukakan bahwa teknologi adalah mengenai cara manusia membuat, memakai, dan memelihara seluruh peralatannya, bahkan mengenai cara manusia bertindak dalam keseluruhan hidupnya. Teknologi tradisional pada masyarakat yang berpindah-pindah dan masyarakat desa yang hidup dari pertanian, menurut Kontjaraningrat palimg sedikit memiliki 8 (delapan) macam system peralatan, yaitu sebagai berikut:
1.    Alat-alat produksi
2.    Senjata
3.    Wadah
4.    Alat untuk menyalakan api
5.    Makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamu-jamuan
6.    Pakain dan perhiasan
7.    Tempat berlindung dan perumahan
8.    Alat-alat transportasi
Disamping itu hasil dari penelitian kami di vihara tempat berada di daerah Pamekasan Talang Candih mayoritas sebagian besar warga disana petani atau peternak yang menggunakan alat kerja manual menggunakan kayu untuk memisahkan padi dari batangnya dan sedikit warga yang sudah menggunakan mesin. Pakaian yang digunakan warga disana pun pakaian yang digunakan untuk menahan pengaruh alam atau bisa disebut pakaian sebagai perhiasan badan warga disana juga menggunakan pakaian sebagai lambang yang dianggap suci disaat ada atau memperingatkan hari besar atau hari raya dan hanya beberapa orang yang menggunakan perhiasaan seperti emas yang biasanya digunakan oleh orang teratas. Alat transportasi yang digunakan untuk bekerja atau mereka ingin bergerak ke mana-mana karena itu mereka memerlukan alat bantu unuk memudahkan aktivitasnya pada zaman modern ini seperti, sepeda motor atau mobil dan tidak jarang juga ada beberapa warga yang masih menggunakan kereta beroda atau yang bisa dibantu oleh kuda atau sapi. Rumah yang mereka tempati pun cukup sederhana tidak begitu mewah atau mewah yang bisa digunakan untuk tempat tinggal keluarga kecil, keluarga besar, ibadah, tempat pertemuan, dan pertahanan dan Alat komunikasi untuk menghubungi satu sama lain mereka menggunakan handphone tapi tidak berbasis new media karna pengetahuan tentang new media disekitar situ masih terbilang sempit dan masih menggunakan saluran sms atau telefon untuk memberikan informasi ke lain.
Lain dengan penelitian kami yang tempat kedua disekitar Alun-alun pamekasan yang sebagian besar warga disekitar tersebut bekerja sebagai karyawan, pedagang, dan guru, pakaian perhiasan, alat transportasi, rumah disana pun sama dengan warga yg di vihara tersebut. Perbedaannya di kedua tempat tersebut terletak di alat komunikasi yang sebagian besar di tempat ini warga sudah mengenal internet dan tidak asing lagi untuk saling komunikasi. Mereka kini sudah jarang menggunakan sms tetapi menggunakan aplikasi yang biasa disebut dengan WhatsApp dan mereka membuat group untuk menginformasikan tentang hal apapun yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan atau dikerjakan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

5.    SISTEM MATA PENCAHARIAN
Sistem mata pencaharian dibagi menjadi 6 yaitu sistem mata pencaharian tradisional, memburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi. Dalam penelitian kami di vihara avalokistesvara, masyarakat sekitar bermata pencaharian nelayan, tambak , dan petani.
Nelayan
Merupakan mata pencarian yang sangat tua. Manusia zaman purba yang kebetulan hidup di dekat sungai, danau atau laut, telah memanfaatkan sumber alam yang penting itu untuk keperluan hidupnya. Ketika manusia mengenl bercocok tanam, aktivitas menngkap ikan seing ddilakukan sebagai mata pencarian tambahan. Sebaliknya, masyarakat nelayan yang menangkap ikan sebagai mata pencria yang utama, juga bertani dan berkebun.
Para nelayan yang menangkap ikan di laut biasanya berlayar dekat pantai. Lebih dari 50 persen ikan hidup dalam kawanan yang meliputi jumlah beribu-ribu ekor, dengan jarak antara 10 hingga 30 Km dari pantai. Pada musim-musim tertentu kawanan ikan tadi malahan akan lebih mendekat lagi, dan masuk kedalam teluk-teluk untuk mencari air tenang dan untuk bertelur. Di samping jenis-jenis ikan yang datang dalam kawanan besar itu, banyak pula jenis ikan lain yang hidup sendiri-sendiri secara terpencat.
Ada laut-laut tertentu yang pantainya menjadi daerah hidup kawanan ikan tertentu, yang bermigrasi menurut musim. Bagi para nelayan tersebut penangkapan ikan itu merupakan pokok dari usaha mereka sebagai nelayan. Serupa dengan itu, kawanan-kawanan ikan yang terdiri dari berpuluh-puluh ribu ekor pula, pada musim-musim tertentu menyusuri pantai-pantai, dan semenjak beberapa abad telah menjadi sumber mata pecarian hidup warga Pamekasan yang hidup di sekitar pantai-pantai tersebut.
Petani
Petani adalah seorang yang bergerak dalam pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanama, seperti padi, bungah, buah dan lain lain.  berbeda dengan yang lainnya, di Desa Candi Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur masih ada petani yang membajak sawahnya dengan sepasang orang. Memang tidak ada yang berbeda hanya saja di derah Desa Candi mereka masih saja menggunakan alat yang ditarik dengan manusia ataupun dengan sapi atau kerbau.
Jika dilingkungan sekitar gereja pekerjaan yang ditekuni adalah bekerja di toko atau karyawan. Karena disana tidak ada lahan pertanian maka mereka sebagai produsen.
C.  Tambak
Tambak adalah pekerjaan yang paling dominan. Terlihat adanya beberapa tambak sebelum masuk kawasan vihara tersebut. Tambak yaitu kolam buatan (empang), biasanya di daerah pantai yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai budidaya perairan. Hewan yang dibudidayakan seperti udang dan ikan.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

6.    SISTEM RELIGI
Dalam suatu kebudayaan yang patut diperhatikan adalah nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap penganutnya. Nilai-nilai dasar yang menjadi pandangan hidup dan sistem kepercayaan di mana semua orang pengikutnya berkiblat. Nilai dasar itu membuat para pengikutnya melihat diri mereka ke dalam, dan mengatur bagaimana caranya mereka melihat keluar. Nilai dasar itu merupakan filosofi hidup yang mengantar anggotanya ke mana dia harus pergi.
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian, emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lain, yaitu: (a) sistem keyakinan; (b) sistem upacara keagamaan; (c) suatu umat yang menganut religi itu.
Keberagaman budaya dan juga keagamaan merupakan sebuah ciri tersendiri bagi negara Indonesia. Seperti dalam penelitian kelompok kami di salah satu daerah di Pamekasan tepatnya di dusun Candih kecamatan Galis kabupaten Pamekasan. Di daerah tersebut terdapat sebuah vihara yang dikenal dengan Vihara Avalokitesvara yang merupakan Vihara terbesar di Pulau Garam ini. Uniknya dalam Vihara tersebut bukan hanya terdapat satu tempat ibadah, namun terdapat 4 (empat) tempat ibadah sekaligus di dalamnya seperti: Islam, Hindu, Khong Hu Cu, dan Budha itu sendiri. Di daerah lain yang tidak jauh dari Vihara itu, juga terdapat sebuah Gereja yang penganutnya adalah Kristen Katolik. Menurut Budianto di lingkungannya lebih dominan ummat yang memeluk agama Islam dari pada Katolik. Ummat yang menganut agama Katolik berjumlah sekitar 508 orang. Namun, dengan banyaknya agama dalam satu wilayah tersebut tidak membuat Pamekasan menjadi kota konflik antar pemeluk agama lain.
Kerukunan hidup antar umat beragama bukanlah hal yang given, melainkan butuh proses dan upaya dari berbagai pihak. Mewujudkan hidup yang rukun baik antar maupun inter umat beragama, dalam masyarakat yang plural bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini disebabkan dengan banyaknya faktor yang terkait, misal faktor sosial, pendidikan, ekonomi, politik termasuk ideologi dari masing-masing pemeluk.
Menurut Dr. Koentjaraningrat terdapat tiga unsur penting dalam sistem religi yang sudah kita sebutkan di atas, antara lain:
a.    Sistem keyakinan

Mengenai sistem keyakinan para ahli antropologi biasanya menaruh perhatian terhadap konsepsi tentang dewa-dewa, sifat dan tanda dewa. Dari kelima agama yang dianut di atas terntunya mereka memiliki kepercayaan masing-masing yang berbeda agama ang satu dengan yang lain. Islam memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, Kristen adalah Yesus, dan begitu pula agama lainnya. Kitab dan juga Nabi yang mereka yakini dari masing-masing penganut juga berbeda.
b.    Sistem upacara keagamaan

Sistem keagamaan secara khusus mengandung empat aspek yang menjadi perhatian khusus dari para ahli antropologi ialah:
a.)    Tempat melakukan upacara keagamaan
1.    Masjid/langgar merupakan tempat ummat Islam dalam melaksanakan upacara keagamaan.
2.    Gereja merupakan tempat ibadah ummat Kristen.
3.    Vihara merupakan tempat  ibadah ummat Budha.
4.    Pura merupakan tempat ibadah ummat Hindu.
5.    Li Thang/Klenteng tempat ibadah ummat Khong Hu Cu.

b).    Saat-saat upacara keagaman dilaksanakan/hari-hari besar keagamaan

1.    Hari besar agama Budha yakni Waisak yang merupakan peringatan dari 3 peristiwa. Yaitu, kelahiran Pangeran Siddharta, hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari sang Budha wafat
2.    Hari Raya Nyepi bagi ummat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai sebagai hari penyucian dewa-dewa yang berada di samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Hari Raya Nyepi tidak ada aktifitas apapun di dalamnya. Segala aktifitas pelayanan umum ditiadakan kecuali Rumah Sakit,
3.    Hari Raya Idul Adha bagi ummat Islam, di hari raya ini dilakukan penyembelihan hewan kurban untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai ganti putranya.
4.    Hari Natal bagi ummat kristen yang diperingati setiap tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus
5. Hari Raya imlek bagi ummat Khong Hu Cu
    Selain hari-hari besar dari semua agama, juga terdapat kegiatan keagamaan yang lainnya seperti bagi ummat Islam yang berpuasa ketika bulan Ramadhan. Begitu juga dengan ummat Kristen Katolik, mereka juga melakukan puasa dan juga shalawatan selama satu bulan penuh. “ummat Katolik melakukan shalawat pada bulan Mei dan Oktober” ungkap Budianto, pengurus gereja di salah satu daaerah di Pamekasan.
   
 Dengan adanya tempat peribadatan lain selain vihara, melambangkan persatuan antar umat beragama di tempat ini. Kerukunan beragama adalah terwujudnya sikap dan kesadaran untuk saling mengerti, saling menghormati dan saling menghargai di antara pemeluk agama yang berbeda. Bahkan terkadang ada ummat agama lain seperti penganut Khog Hu Cu tidak hanya menyembah di Klenteng saja, namun mereka juga beribadah di Pura dan juga Vihara yang ada di sana.
Referensi : Liliweri, Alo. (2003). Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta



7.    KESENIAN
Kesenian menurut Koentjoroningrat adalah kompleksitas dari ide-ide , norma-norma, gagasan,nilai-nilai, serta peraturan dimana kompleks aktivitas dan tindakan tersebut berpola dari manusia itu sendiri dan pada umumnya berwujud berbagai benda-benda hasil ciptaan manusia. Dipandang dari sudut kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar, yaitu : a) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan b) seni suara, atau kesenian yang dinikmati manusia dengan telinga. Seni rupa yang terdapat di Vihara Avalokitesvara ini berupa patung-patung. Sedangkan seni suara yaitu adanya barongsai dan juga wayang kulit. Kesenian tersebut biasanya dipertunjukkan pada saat hari-hari besar atau perayaan budha. Pertunjukan kesenian ini dilakukakan di sekitar wilayah vihara. Untuk wayang kulit sendiri mereka telah menyediakan tempat tepat didepan vihara tersebut.
Barongsai merupakan kesenian untuk mengiring para tamu yang datang. Para tamu tersebut bukan hanya berasal dari sekitar pamekasan tetapi juga dari luar daerah atau kota untuk beribadah. Biasanya terdapat dua barongsai untuk mengiring. Setelah mengiring sampai pintu masuk mereka berhenti sejenak untuk memainkan tabuhan khas barongsai dan barongsaipun mulai mempertunjukkan aksinya.Acara ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Dua hari untuk penyambutan tamu dari vihara-vihara lain yang membawa patung.  Untuk wayang kulit diadakan pada malam hari.
Dalam penelitian yang ada di gereja dekat alun-alun pamekasan, masyarakat disana mempunyai kesenian yang bernama Ul-Daul. Sebagian besar orang berpendapat bahwa Ul-Daul  berasal dari kata “Gaul, Ul-Gaul” dan kemudian diperaktiskan menjadi “Ul-Daul”. Musik Ul-Daul  merupakan musik kontemporer yang memiliki suatu ciri khas tersendiri, yang berasal dari salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat madura.
Berdirinya musik ini berawal dari suatu kebiasaan masyarakat madura yang sering kali memanfaatkan barang-barang ditempat sekitar atau barang bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi, untuk dijadikannya sebagai instrumen dalam memainkan bunyi-bunyian sehingga membentuk suatu nada-nada yang etnik dan juga sangat khas. Musik ini mulai berkembang pesat pada era tahun 1990-an yang mempadukan dengan berbagai macam aliran musik mulai dari musik dangdut, gambus, kasidah, dan hingga lagu-lagu daerah.
Musik Ul-Daul merupakan inovasi musik tong-tong, sehingga sebagian besar alat-alat musik yang digunakan untuk memainkannya terbuat dari bambu. Ada beberapa alat musik yang terbuat dari potongan bambu memiliki jenis ukuran yang berbeda-beda dan sesuai dengan bunyi yang akan dihasilkannya nanti, mulai dari ukuran besar panjang sekitar setengah sampai mencapai satu meter dengan diameter 40-50 cm. Sehingga akan melahirkan bunyi yang sangat nyaring dan besar. Dan selanjutnya memiliki jenis ukuran yang semakin kecil sesuai dengan kebutuhan irama yang diperlukan untuk dapat mempadukan dan menghasilkan nada-nada yang indah sehingga enak untuk didengarkan. Cara memainkan musik ini dengan menggunakan pukulan monoton sehingga melahirkan irama yang dinamis. Semakin eksisnya keberadaan dan bertambahnya perkumpulan musik Ul-Daul dimadura ini menjadikan sebagai bukti bahwa madura merupakan tanah yang kaya raya akan seni dan kebudayaan yang memiliki ciri-ciri khas tersendiri.
Dalam hari-hari besar musik Ul-Daul ini dimainkan. Mereka pun telah memiliki alat-alat musik sendiri. Ul-Daul yang dimainkan adalah murni Ul-Daul bukan ada campuran alat musik lain. Gereja ini pernah memenangkan lomba tingkat SMP di probolinggo.
Referensi : Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

0 komentar: