Education

Komunuikasi Lintas Budaya : Sistem Budaya Masyarakat Gunung Kelud

April 12, 2017 vivi lutviana 0 Comments

1.    Bahasa yang Digunakan Masyarakat Kawasan Gunung Kelud
 
Dalam kehidupan bermamsyarakat, sebuah bahasa merupakan salah satu cara untuk melakukan komunikasi antar individu satu dengan individu lainnya dengan menggunakan bahasa yang sudah disepakati bersama baik itu bahasa verbal maupun non verbal. Bahasa verbal itu sendiri adalah bahasa yang disampaikan secara lisan oleh komunikator dengan komunikan dan berharap mendapatkan respon dari komunikan tersebut. Sedangkan bahasa non verbal ialah bahasa yang pengungkapannya tidak dilakukan secara lisan, namun berupa simbol atau tanda yang sudah disepakati bersama.
 
Saussure mengajarkan bahwa tanda, termasuk juga bahasa dan dapat berubah-ubah. Ia mencatat bahwa bahasa yang berbeda menggunakan kata kata yang berbeda untuk hal yang sama dan biasanya ada hubungan secara fisik antara sebuah kata dan acuannya. Oleh karena itu, tanda adalah kaidah yang ditata oleh aturan (Littlejhon, 2009:156). Teori mengenai tanda dikembangkan lagi oleh Saussur, dia berpendapat bahwa bahasa adalah fenomena budaya, dan menghasilkan makna dalam cara yang khusus. Bahasa menghasilkan makna melalui sistem hubungan dengan menciptakan jaringan persamaan dan perbedaan (Ziauddin, 2005:11).
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki Gunung Kelud, tepatnya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri pada hari Sabtu tanggal 1 April 2017. Masayarakat desa tersebut masih menggunakan bahasa jawa yaitu bahasa Ngukuh, dimana bahasa tersebut merupakan campuran dari bahasa ngoko halus dan bahasa jawa kasar. “Bahasa Ngukuh itu mas bahasa sehari hari orang-orang disini, yo kasar ndak kasar nemen halus yo ndak halus nemen” kata Ratno (23) salah satu remaja yang menjadi penggerak radio Kelud FM.
 
Menurut  Pak Sukemi (42), selaku kepala desa di Desa Sugih Waras tersebut merupakan bahasa turunan dari sesepuh mereka dan tetap dipertahankan sampai saat ini. Bahkan setelah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada perubahan yang signifikan pada bahasa kesehariannya dimana budaya luar yang dibawa oleh pengunjung Gunung Kelud masih bisa di filter oleh masyarakat setempat. “Untungnya setalah dibangunnya wisata Gunung Kelud, tidak ada pergeseran budaya yang cukup signifikan dari masyarakat disini” Jelas Pak Sukemi.
 
Selain bahas verbal, hasil dari penelitian kami ada juga bahasa non verbal yang cukup banyak dan mudah dipahami oleh masyarakat sekitar maupun pendatang. Ketika memasuki kawasan wisata Gunung Kelud, para pendatang pasti melihat banyak sekali pedagang buah nanas di pinggir jalan yang menuju ke Gunung Kelud, bahkan ada sebuah tulisan yang mangatakan “Pengunjung Bisa Petik Sendiri Nanas Madu, 10 ribu/kilo”. Hal tersebut sudah bisa menandakan bahwa hasil bumi dari masyarakat gunung kelud adalah buah nanas, sedangkan mayoritas mata pencahariannya adalah petani dan pedagang. 
 
Menurut langer, tanda (sign) adalah sebuah stimulus yang menandakan kehadiran dari suatu hal. Seperti halnya awan dapat menjadi tanda untuk hujan, warna merah sebagai tanda peringatan, hubungan sederhana ini disebut pemaknaan (signification). Sebaliknya, simbol digunakan dengan cara lebih kompleks dengan membuat seseorang untuk berpikir tentang sesuatu yang terpisah dari kehadirannya. Simbol adalah sebuah konseptualisasi manusia tentang satu hal. (Littlejhon, 2009:154)
Saat pengunjung mulai memasuki kawasan gunung kelud, di pinggir-pinggir jalan pasti melihat banyak simbol yang menggambarkan situasi daerah tersbut. Mulai dari simbol tebing curam, belokan tajam, dan simbol untuk berhati-hati ketika berada di kawasan Gunung Kelud. Simbol tersebut dibuat oleh pemerintah setempat untuk memberikan peringatan kepada masyarakat gunung kelud maupun para pengunjung agar lebih waspada ketika berkendara disana. Selain simbol tersebut, ada juga simbol yang menandakan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membuat kegaduhan di kawasan Gunung kelud, agar masyarakat dan para pengunjung tida mencemari lingkungan dan tetap menjaga ketentraman di Gunung Kelud.
 
2.    Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
    
Menurut Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar, berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk kebiasan maupun kegiatan yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan adaptasi diri yang memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Dalam  Lintas Budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: bahasa, sistem pengetahuan, sistem masyarakat, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Salah satunya adalah sistem mata pencaharian, dimana yang dimaksud disini adalah suatu usaha atau kerja ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk memperoleh bahan kehidupan untuk jangka waktu tertentu. Banyak jenis ragam mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat. Setiap daerahpun memiliki sumber mata pencaharian yang berbeda-beda tergantung dari iklim, keadaan geografis, tingkat pendidikan dan juga tingkat kebutuhan masyarakat itu sendiri. Mata pencaharian pada masyarakat pedesaan masih sangat tradisional, berbeda dengan mata pencaharian di kota yang sangat kompleks di segala bidang. Koentjaraningrat secara tradisonal mengklasifikasikan mata pencaharian masyarakat desa terdiri dari; (a) berburu dan meramu, (b) beternak, (c) bercocok tanam di ladang, (d) menangkap ikan dan bercocok tanam menetap dengan irigasi (Koentjaraningrat, 2002: 358).
 
Dalam study kasus ini masyarakat sekitar Gunung Kelud lah yang menjadi objek, tepatnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan dilapangan masyarakat sekitar kawasan Gunung Kelud mayoritas bekerja sebagai petani dan pedagang. Tak heran jika sepanjang jalan menuju Gunung Kelud banyak terhampar sawah hijau.  Hampir 80% warga bekerja sebagai petani, yag ditanam pun beragam, mulai dari nanas, cengkeh, tebu hingga sayuran. Dan 5% lagi warga bekerja sebagai pegawai di kantor kelurahan maupun kecamatan di desa tersebut. Tak hanya itu, ada pula warga yang bekerja sebagai pedagang, namun perkerjaan tersebut sebagai sampingan atau untuk menjual hasil panen mereka. Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai peternak kambing dan sapi perah. Kendati demikian, tetap saja yang mata pencaharian yang paling dominan adalah petani, karena faktor lingkungan yang cukup mempuni.
 
Menurut Dr. P.J Bouman dan Bertha (1982: 26) desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal, kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan dan sebagainya, usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Kehidupan dengan mengerjakan sawah ataupun ladang orang dapat membuat mereka memungut hasil dari tempat dimana mereka tinggal.  Kondisi tersebut tak lepas dari keadaan geografis. Udara yang sejuk, subur nya tanah dan luas serta longgarnya daerah yang dapat dipekerjakan juga sebagai faktor banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.
 
Desa yang merupakan suatu wilayah yang pada umumnya memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Masyarakat sekitar Gunung Kelud tak hanya menanam padi tetapi juga menanam nanas dan tebu. Nanas yang ditanam pun bukan nanas lokal, melainkan nanas madu yang rasanya cukup manis dan nikmat. Nanas di daerah tesebut menjadi hasil bumi yang dapat tumbuh dengan subur, disepanjang jalan menuju daerah wisata Gunung Kelud pun banyak pedagang yang menjajakan buah nanas. Nanas madu tersebut menjadi ciri khas daerah tersebut karena hanya dapat ditemukan di daerah sekitar kawasan Gunung Kelud. Nanas tak hanya dapat dikonsumsi langsung tetapi juga dapat diolah menjadi olahan lain seperti selai dan keripik nanas. Biasanya para kaum wanita lah yang mengolah nanas menjadi berbagai inovasi makanan yang dapat menarik minat pengunjung.
 
Tidak hanya sebagai makanan, Nanas disini juga dijadikan sebagai sesajen saat berlangsungnya ritual “Larung Sesaji”, yakni ritual rutin tahunan yang diadakan di kawah Gunung Kelud. Tak kehabisan akal, penduduk sekitar pun juga memanfaatkan lahan mereka yang ditanami nanas sebagai mata pencaharian lain, dengan bekerjasama dengan pihak pariwisata pengelola wisata Gunung Kelud. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa dampak terhadap masyarakat setempat. Pariwisata mempunyai energi dobrak yang luar biasa, yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami metamorphose dalam berbagai aspeknya ( I Gede Pitana dan Putu G. Gayantri, 2005: 109). Terdapat beberapa pedagang yang membuka lapak “Petik Nanas Sendiri”. Mereka bekerja sama dengan biro wisata off road di kawasan Gunung Kelud. Sehingga bagi pengunjung yang menyewa mobil off road maka otomatis akan diantarkan ke kebun nanas untuk dapat memetik nanas sendiri. Harganya pun ccukup terjangkau yaitu Rp. 10.000/kg. Dari kegiatan bertani, berdagang dan beternak tersebut mereka mengaku cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga bangku kuliah.
 
3.    Sistem Religi Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Religi berasal dari kata latin yaitu Relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Menurut itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara mengabdi pada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus di baca.
Menurut Mangun wijaya (dalam Burhan Nurgiyanto, 2010: 326-327) bahwa bahwa perbedaan agama dengan regiliustas agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan hukum – hukum yang resmi sedangkan religiutas bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih menonjolkan eksistensinya sebaga manusia.
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepat nya di desa Sugi waras kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut lebih di dominasi oleh agama Islam dan kristen akan tetapi lebih sekitar 80% lebih banyak islam dari pada kristen. Walau banyak yang menganut agama Islam didesa ini masih masih menganut kepercayaan nenek moyang. Di desa ini masih melestarikan kepercayaan nenek moyang yaitu dengan melakukan ritual setiap tahunnya pada setiap bulan Suro ( Muaharram dalam Islam ). Menurut  Ratno bahwaa ritual tersebut dinamakan Larung sesaji dengan persiapan yaitu membawa buceng/ keduren ( tumpeng ). Ritual tersebut dilakukan oleh seluruh masyarakat se kecamatan Ngancar yang berlangsung malam dan siang hari. Hal tersebut dialkaukan agar ketika gunung Kelud maletus tidak terlalu banyak dampaknya terhadap masyarakat.
 
Menurut Sidi Gazalba bahwa religi adalah kecenderungan rohani manusia, yang berhubugan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna dalam sesuatu yang yang terakhir, hakikat dari semuanya itu. Manusia mmengakui adanya dan bergantung mutlak pada yang kudus, yang dihayati sebagai tenaga di atas manusia dan di luar kontrolnya, untuk mendapatkan pertolongan daripadanya, manusia dengan cara bersama-sama menjalankan ajaran, upacara, dan tindakan dalam usahanya.
 
Dari teori diatas sama seperti yang di lakukan oleh masyarakat di desa Sugi waras kecamatan Ngancar yang melakukan ritual agar tehindar dari hal-hal yang tidak inginkan oleh masyarakat yang ada di sana. Mereka melakukan ritual tiap tahun pada bulan suro.
Menurut pak Sukemi seorang kepala desa sugi waras  yang menjabat mulai 2013 (42) tahun. Mengatakan bahwa ritual Larung sesaji ini dilakukan karena masyarakat beranggapan u yang tinggal di sekitar lereng gunung Kelud tersebut.
 
Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama tiga unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lainnya. A. Sistem keyakinan. B. sistem upacara. C. Suatu umat yang menganut religi itu.
Di desa Sugih waras melakukan tiga unsur tersebut masyarakat meyakini bahwa jika melakukan ritual ini mereka akan mendapatkan keselamatan apabila terjadi gunung meletus. Ritual ini di lakukan setiap tahun yang tanggalnya ditentukan oleh sesepuh/ juru kunci gunung Kelud yang diketui oleh mbah Ronggo. Ritual ini menjadi daya tarik pariwisata, saat ada ritual di Kelud jumalh pengungjung bertambah banyak. Ritual ini  menggunakan baju hitam yang dilakukan seluruh masyarakat baik muda ataupun tua. sebelum ritual di buka masih ada persembahan tari-tarian. Ritual ini berdasarkan tanggal yang telah di tentukan oleh sesepuh/ atau juru kunci gunung Kelud. Kemudian, memberitahu kepada kebuapaten dari kabupaten memberi instruksi kepada masyarakat agar mempersiapkan unruk ritual tersebut. biasanya tempat titik kumpul di balai desa. Sehari sebelum ritual dilakukan mereka melakukan penyadranan kemudian melakukan punden (tempat keramat)  kemudian pada malam harinya mereka melaksanakan kulonuwon ke gunung Kelud hingga paginya merupakan merupakan acara intinya.
 
4.    Sistem Organisasi Sosial Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
   
 Herskovits dalam Harsojo (1967), mengatakan bahwa organisasi sosial itu meliputi lembaga-lembaga yang menetapkan posisi dari laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat, dan karenanya melahirkan relasi antar masyarakat.
Ahli antropologi lain yaitu W.H.R. Rivers, dalam Harsojo (1967) melihat organisasi sosial sebagai proses yang menyebabkan individu disosialisasikan dalam kelompok. Ia berpendapat, bahwa dia dapat juga mengganti studi mengenai organisasi sosial menjadi studi tentang social groupings, dan bagian-bagian dari fungsi sosial yang mengiringi pengelompokan itu. Ia mengatakan bahwa ruang lingkup penyelidikan mengenai organisasi sosial meliputi struktur dan fungsi dari pada kelompok. Adapun fungsi tersebut dapat dibagi dalamduabagian:
     a. fungsi yang berhubungan antara kelompok dengan kelompok dan
     b. fungsi yang bermacam-macam dari pada kelompok sosial itu adalah
          pranata- pranata sosial.
    
Raymond firth, dalam Harsojo (1967) mengemukakan arti yang khusus bagi konsep organisasi sosial. Dalam bukunya “elements of social organization”, ia mengemukakan bahwa Antropologi sosial menyelidiki “human social process comparatively”. Dengan proses sosial disini dimaksudkan operasi dari kehidupan sosial, cara bagaimana aksi dan existensi dari pada manusia hidup itu mempengaruhi manusia lain yang hidup dalam suau relasi tertentu.
    
Organisasi adalah institusi masyarakat yang dominan di dalam kehidupan manusia. Seseorang mungkin dilahirkan di rumah sakit, dididik di sekolah formal, mencari nafkah dengan bekerja di suatu perusahaan, mengadakan kegiatan sosial dengan aktif di organisasi kemasyarakatan, mengikuti perkumpulan yang menyalurkan hobi tertentu, mengikuti salah satu partai politik, dan pada saat meninggal kematiannya diatur oleh organisasi tertentu. Organisasi telah meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Setiap hari seseorang hampir selalu berhubungan dengan berbagai organisasi dan sebagian besar waktunya dihabiskan dalam aktivitas organisasi. Hanya masyarakat primitif dan terasing saja yang tidak mempunyai organisasi (Ibrahim, 2003:63).
 
Menurut Ratno (23) penyiar Radio Kelud FM tepatnya di Desa Sugi Waras  Kec. Ngancar, Kediri. Bahwa di desa tersebut ada organisasi sosial seperti Karang Taruna yang penggeraknya adalah para pemuda di desa tersebut yang masih aktif sampai sekarang. Ada juga kegiatan yang diadakan oleh organisasi tersebut seperti acara agustusan. “Pokoknya acara-acara didesa itu Karang Taruna yang melaksanakan. Ada juga Organisasi Sosial atau juga bisa disebut komunitas “Radio Kelud FM” yang juga dipelopori oleh para pemuda Desa Sugi Waras. “Sekumpulan remaja yang ingin bersiaran, selain bersiaran juga menyiarkan tentang bencana aja”. Ujar Ratno. “Menurut Stephen Robbins (dalam Sobirin, 2007:5) organisasi adalah unit sosial yang sengaja didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dan terkoordinasi, mempunyai pola kerja tertentu yang terstruktur, dan didirikan untuk mencapai tujuan bersama atau satu set tujuan yang telah  ditentukan sebelumnya. Organisasi sosial dapat diartikan sebagai perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa  dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial merupakan tata cara yg telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia dalam sebuah wadah yangdisebut dengan Asosiasi. Asosiasi memiliki seperangkat aturan, tata tertib, anggota dan tujuan yang jelas, sehingga berwujud kongkrit.
   
 Menurut Pak Sukemi (42), seorang Kepala Desa di Desa Sugiwaras mengatakan bahwa didesa tersebut juga ada organisasi yang diberi nama Jamaah Rutinan, yang kegiatannya mengadakan pengajian. Organisasi ini dibagi menjadi empat bagian yaitu laki-laki dewasa (bapak-bapak), remaja putra, perempuan dewasa (ibu-ibu), dan remaja putri. JBAF Maijor Polak (1985:254) mengemukakan bahwa organisasi sosial dalam arti sebagai sebuah asosiasi adalah sekelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu, kepentingan tertentu, menyelenggarakan kegemaran tertentu atau minat-minat tertentu.
5.    Sistem kesenian Masyarakat Kawasan Gunung Kelud (Kediri)
 
Perhatian terhadap kesenian atau segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan, dalam kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa mula-mula bersifat deskriptif. Para pengarang etnogarfi masa akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 dalam karangan-karangan ereka seringkali memuat suatu deskriptif mengenai benda-benda hasil seni, seni rupa, terutama seni patung, seni ukir , atau seni hias, pada benda alat sehari-hari. Deskriptif –deskriptif itu terutama memperhatikan bentuk, teknik pembuatan, motif hiasan, dan gaya dari benda-benda kesenian tadi.
 
Selain benda hasil seni rupa, lapangan kesenian lain yang juga sering mendapat tempat dalam sebuah karangan etnografi adalah musik, seni tari, dan drama. Bahan mengenai seni musik setiap kali hanya terbatas pada deskripsi mengenai alat bunyi-bunyian bahkan mengenai seni tari  biasanya hanya menguraikan jalannya suatu tarian, tetapi jarang suatu keterangan koreografi  tentang gerak-gerak tarinya sendiri, sedangka bahkan seni drama sering juga terbatas hanya pada uraian mengenai dongengnya saja, atau karena seni drama pada banyak suku bangsa di dunia ada hubungannya dengan religi maka seni drama sering juga dibicarakan dengan upacra-upacara keagamaan.
 
Dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasil manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar yaitu: (a) seni rupa, atau kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan mata, dan (b) seni suara, atau kesenian yang dinikamati oleh manusia dan telinga.
Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain.
 
Kesenian yang ada di desa Sugi Waras kecamatan Ngancar ini masih mempertahakan kesenian jaranan yang di mainkan tidak hanya orang tua akan tetapi para pemuda disana tetap mmepertahankan kesenian jaranan ini. Kesenian jaranan ini di tampilkan saatada acara tahunan yang ada di sana.  Jaranan ini di mainkan oleh masyarakat lokal yang ada di sana.
 
Menurut Ratno salah satu warga yang ada disana yang juga merupakan penyiar radio Kelud FM ini mengatakan bahwa. “ di daerah ini masih mempertahankan kesenian jaranan yang biasa tampil di sebuah acara tahunan yaitu adanya ritual sesaji yang di laksanakan sama seperti ritual gunung Kelud bulannya. Bahkan  kesenian ini ada organisasinya akan tetapi ratno ini mengetahui nama organisasinya.
 
Kesenian berkatan erat dengan rasa keindahan yang diilki oleh setiap manusia dan masyarakat.  Rasa keindahan inilah melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. Bahwa dengan adanya kesenian  Jaranan ini mempunai daya tarik tersendiri dan masih di pertahankan oleh anak muda yang ada di sana. Keindahan dari kesenian Jaranan ini, jaranan ini di hanya ada di watu tertentu yaiu saat ada ritual di gunung Kelud.
 
6.    Sistem teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam memahami kebudayaan mannusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan dengan membentuk dan teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan Bahasa kebudayaan fisik.
 
Penggunaan istilah “Teknologi” (Bahasa inggris: technology) telah berubah secara signifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke 20, istlah ini tidak lazim dalam bahsa inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni terapan.
 
Pada tahun 1937, seorang sosiolog amerika, Read Bain, menulis bahwa technology includes all tools, machines, utensils, weapons, instruments, housing, cloting, communicating and transporting devices and the skills by which we produce and use them (teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat,perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut atau pemindah dan pengomunikasi dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu). Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia duawali dengan pegubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sedrhana. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk diantaranya mesin cetak, telepon, dan internet.
 
Menurut castells (2004,107) seorang ahli sosiologi mendefinisikan teknologi sebagai “kumpulan alat, aturan atau prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara memungkinkan pengulangan.
 
Dari hasil penelitian yang dilakukan di masyarakat sekitar kaki gunung kelud, tepatnya di desa sugihwaras, kecamatan ngancar, kabupaten Kediri pada hari sabtu 1 april 2017. Masyrakat di gunung kelud khususnya desa sugihwaras, dari teknologi itu sendiri sudah memadai seperti halnya mempromosikan tempat wisata dan budaya-budaya yang ada digunung kelud dengan menggunakan media sosial supaya banyak diketahui oleh masyrakat. Dan juga di gunung kelud sudah ada radio yang bernama radio kelud fm, yang berguna untuk menyampaikan sebuah informasi apabila nanti ada sebuah bencana disekitar kaki gunung kelud.
 
7.    Sistem Pendidikan atau Sistem pengetahuan Masyarakat Gunung Kelud (Kediri)
            Dalam pandangan Talcott Parsons masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. sistem kehidupan ini dapat dianalisis melalui dua dimensi yaitu:
          Interaksi antar bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi dan pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott parsons membangun sebuah teori sistem umum Grand theory yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan latent pattern Maintenance. Salah satunya di sintem pendidikan atau sistem pengetahuan.
 
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Adapun tujuan pendidikan secara umum adalah membawa anak kearah tingkat kedewasaan. Suatu pendidikan menyangkut tiga unsur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Pendidikan menduduki posisi penting dalam pembangunan suatu bangsa. Pendidikan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sangat menentukan nasib bangsa. Dunia pendidikan tidaklah sebatas mengetahui ilmu dan memahaminya, akan tetapi dalam dunia pendidikan sangat berhubungan dengan dunia luar yang nyata. Pendidikan terdiri dari berbagai elemen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang diharapkan bersama, dari hal itu dapat disebut bahwa pendidikan sebagai suatu sistem pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkingannya baik fisik maupun makhluk hidup yang lain, karena pelajaran tidak hanya didapat dari pelajaran sekolah ataupu lembaga pendidikan formal, namun pendidikan juga membutuhkan pelajaran dari alam atau lingkungan sekitar.
 
Sitem berasal dari bahasa yunani systema, yang berarti sehimpunan bagan atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Istilah sistem adalah suatu konsep yang abstrak. Definisi tradisional menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur unsur yang saling berkaitan saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dan dalam lintas budaya menurut Koentjaraningrat terdapat 7 unsur budaya yakni: Bahasa, Sistem pengetahuan, Sistem masyarakat, Sistem teknologi, Sistem mata pencaharian, Sistem religi, dan kesenian. salah satunya sistem pendidikan dimana yang telah dijelaskan di atas. Menurut Ratno (23) salah satu warga di desa sugih waras, kecamatan ngancar, kabupaten kediri. Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan sekitar kawasan gunung kelud mayoritas sistem pendidikan atau sistem pengetahuan hampir 80% masyarakatnya sudah lebih mengejar pendidikan S1 nya,rata-rata pendidikan S1 berada di wilayah kota kediri dan sedangkan di daerah pedesaan itu terdapat di desa wates. Di desa sugih waras sendiri terdapat 3 SD, 4 SMP, 4 SMA dan tingkat perguruan tinggi ada di daerah kotanya. Dan di desa ini juga ada kebudayaan yang sangat unik dan juga dilestarikan, nama kebudayaan tersebut ialah larung sesaji, Namum setelah tidak adanya kawah gunung sesaji ritula tersebut berubah menjadi ritual sesaji yang di adakan setiap tanggal suro atau bulan suro.(koenjaraningrat,2002,358).


Daftar Pustaka
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Littlejhon, Stephen W. 2012. Teori Komunikasi Theories of Human Communication Edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.
Sardar, Ziauddin. Loon, Borin Van. 2005. Seri Mengenal dan Memahami Cultural Studies. Batam: Scientific Press

You Might Also Like

0 komentar: