Bangun pemudi pemuda Indonesia Tangan bajumu singsingkan untuk negara Masa yang akan datang kewajibanmu lah Menjadi tanggu...

Tampar 4 Pilar MPR RI, Wajah Indonesia Kembali Memerah

November 07, 2017 vivi lutviana 0 Comments



Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

###

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru


Maaf sebelumnya, memotong semangat saudara - saudari menyanyikan lagu nasional kebanggaan bangsa Indonesia. Tidak berniat memotong dari text yang saya tulis diatas, tapi saya yakin lagu tersebut sudah melekat didalam jiwa dan pikiran saudara-saudari. Menyanyikan dengan nada semangat juang, membulatkan suara bahkan menggerakkan tangan mengkepal saat menyanyikan pada penggalan lagu "Bangun pemudi pemuda" atau langsung menurunkan intonasi dan menyanyikan kembali lagu "Indonesia Raya" dengan suara lebih tenang dan menghayatinya.

Mungkin terlalu sopan ataupun bahasa terlalu kaku menyapa kalian ketika membaca tulisan ini, tetapi inilah faktanya saling menghargai satu sama lain, menghormati tua - muda, saling memahami perbedaan  dan  memecahkan permasalahan bersama dengan musyawarah mufakad mulai tak penting lagi. Saya sangat menghargai, menghormati, memahami, dan menganggap saudara-saudari adalah bagian dari hidup saya. Kenal atau tidak, jauh atau dekat, sewilayah atau tidak yang terpenting kita berpijak pada bumi ditanah yang satu dengan bentangan pulau dan beranekaragam perbedaan yang istimewa yaitu Tanah air kita tercinta "Indonesia".

Sekarang, kita berpindah pada jaman sekarang, oh maaf salah maksud saya kaum milenial atau familiar terdengar dengan sebutan "kids jaman now". Korban dari segala macam pola kehidupan yang kini sudah merambah pada individualisme, mengintimidasi, memperselisihkan hal yang sepele dan berbagai macam tingkah laku dan perbuatan yang saudara-saudari telah ketahui dilingkungan sekitar.

Pernah mendengar guru memukul murid kemudian dilaporkan dan dipenjara ? Jawab saja pernah.
Pernah mendengar nenek mencuri buah cokelat kemudian diadili ? Jawab saja pernah.
Pernah mendengar salah satu artis menjadikan "Pancasila" sebagai bahan lelucon ? Jawab saja pernah.
Pernah mendengar anak-anak dibully karena fisik ataupun psikologis mereka berbeda dari teman-temannya. Jawab saja pernah.
Pernah mendengar saling adu fisik karena hal sepele ? Jawab saja pernah. 

Dari berbagai macam pertanyaan yang saya sebutkan diatas apakah membuat kepala saudara-saudari mengangguk - angguk ataukah melontarkan kata "yajugaya..". Saya harap begitu. Awalnya saya ingin membahas maksud dari 4 Pilar MPR RI yang harus diterapkan pada  bangsa yang satu ini. Tapi, saya ingin membahas tentang hal yang kini memecah belahkan tali persaudaraan kita, rasa simpati kita, rasa hormat kita terhadap apa yang sepatutnya kita lakukan.

"Jangan jauh-jauh ke 4 Pilar kebangsaan, menyanyikan lagu kebangsaan saja kurang semangat, turun naik nadanya tidak konstan bahkan dirijennya saja diingitkan untuk bait ke 2 pada lagu ini takut lupa, itukan artinya tidak benar-benar memahami makna pada setiap kalimat yang diucapkan pada saat menyanyikannya." Ujar Bapak Ma'ruf sebagai Sekjen MPR RI pada saat menghadiri acara #Ngobrol bareng MPR RI, Sabtu lalu 4 November 2017 di Fairyfield Hotel Surabaya.




Saya sebagai dirigen pada saat acara tersebut, sangat malu, bingung, gugup bahkan menyanyikannyapun hanya sekedar menyanyi tanpa mendalami makna dari tiap kalimat yang saya lontarkan, dirijenpun baru pertamakali saya lakukan saat acara ini, dengan bangganya menjadi dirijen pertama kali di acara # Ngobrol Bareng MPR. Ucapan beliau bukan menjadi 'kritikan pedas' tapi sebagai 'pukulan kesadaran' bahwa sebagai  #Blitz Blogger Influencer dan Netizen untuk perubahan Indonesia lebih baik jika diri saya sendiri belum memaknai hal kecil dan wajib yang kita pahami dan kita tancapkan pada dada semangat juang dan cinta tanah air.





Seluruh peserta #NgobrolbarengMPR dan yang ada dalam acara menyanyikan lagu kebangsaan
Saling menyalahkan tidak ada gunanya, mulailah berubah dan memahami apa yang telah kita perbuat, salahnya diperbaiki, baiknya diteruskan. Saling memperbaiki dan menasehati, bagi saya itu adalah tindakan memalukan, namun tidak ada penyelasan bagi saya, berkesempatan tampil sebagai dirigen pertama kalinya di depan MPR walaupun dengan kesalahan adalah pembelajaran yang menguatkan dan mengingatkan saya, bahwa hal kecil memiliki makna yang besar. Apalagi menyangkut 'Indonesia'. 
4 Pilar MPR RI yang sangat familiar yaitu :


  1. Pancasila
  2. NKRI
  3. UUD 1945 
  4. Bhineka Tunggal Ika


Sudah tidak perlu dijabarkan lagi dari keempat yang telah saya sebutkan karena tidak hanya kita dengar kata-kata tersebut dibangku sekolah di pamflet jalanan bahkan diberbagai pemberitaan televisi dan media sosial yang ramai diperbincangkan. Keempat pilar yang saudara-saudari ketahui tersebut adalah pembentuk perubahan bagi wajah indonesia yang kembali memerah dengan semangat juang generasi muda, solidaritas antar sesama memberikan warna pada kecerahan  Indonesia menuju Indonesia Merdeka dengan segala perselisihan,permasalahan sosial, ekonomi, budaya, hukum dan berbagai perspektif yang membuat Indonesia memudar.

Tak SeMerah Dulu

Tak SeSuci Dulu

Menghikmati upacara bendera, pembacaan UUD, pemahaman Bhineka Tunggal Ika, mengheningkan cipta sudah dikesampingkan. Ada yang bercanda ketika menyanyikan lagu wajib, kepanasan bahkan pinsang saat upacara jika dibandingkan dengan para pahlawan yang menitihkan air mata, bercucuran darah dan keringat yang tak pernah berhenti menetes. Bukan mainan lagi, itu benar - benar mempertaruhkan nyawa untuk membela Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak untuk kepentingan diri sendiri tapi untuk kepentingan bersama dan kemakmuran tanah air tercinta. 



Tidak munafik saya juga pernah dalam posisi itu, kurang memaknai lagu kebangsaan, kurang menghargai. Namun, kilas balik dari perkataan Sekjen MPR RI, saya merasa 'tertampar', generasi muda harusnya lebih menggoreskan tinta merah dengan semangat juang, pertahanan dan lebih memaknai arti 'Indonesia Merdeka' yang sesungguhnya. Tak hanya itu, beberapa video perjuangan, film-film sejarahpun membuat saya merinding dan benar-benar membangunkan jiwaku yang selama ini kurang peduli dengan kepahlawanan.


Apa yang akan saya perbuat untuk Indonesia tercinta ? Hanya memberikan dorongan tanpa melakukan aksi? Hanya menulis sepenggal tulisan kemudian di publish ? Ataukah hanya mencari perhatian belakang untuk menuai berbagai macam pujian ?


Lepaskan pikiran negatif ya, berbagai macam problematika di negeri ini sudah banyak. Berbagai macam tuding menuding, lempar batu sembunyi tangan, rusaknya moral dan hal yang berkenaan dengan keempat pilar yang tidak lagi dibuat sebagai pedoman. Kini renungkan diri, tidak hanya dalam merangkul sesama dan memerdekaan kembali Indonesia yang telah merdeka. Jadikan 4 Pilar yang telah di tetapkan untuk negara tercinta agar rakyatnya makmur sentosa kita terapkan dalam hati kita, pedomkan dalam hidup bermasyarakat di bumi pertiwi ini.


Bukan hanya saya, tapi kita bersama mewujudkan Indonesia yang kembali berpegangan erat, menyatukan berbagi macam perbedaan, pulau bahkan keharmonisan tetap dengan ciri khas yang ada di tanah air ini. Generasi muda yang harusnya memberikan yang terbaik untuk bangsa, mencerdakan hati, otak, pikiran juga perbuatan itu lebih utama, tidak hanya berdampak baik bagi diri sendiri namun bagi orang-orang sekitar terlebih untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengamalkan sila yang tercantum pada Pancasila dengan versi dan gaya kita sendiri tanpa ada yang memaksa lakukan dengan hati seperti pembacaan UUD 1945 yang selalu kita dengar dan kita hikmati bersama. Kita Indonesia, jarak, perbedaan, strata bahkan apapun itu kita tetap satu, Bhineka Tunggal Ika dalam ikatan kita.

Netizen's MPR generasi perubahan Indonesia satul

Merahkan kembali Indonesiaku! 

Jiwaku tetap ada disini!

Bumi Pertiwi pinjakan hidup dan mati!

Masa depan bangsa ada pada kita!



0 komentar: